Bu! Batas Waktu Besok

“Nak, maaf merepotkan kamu. Ibu hanya tidak suka dibentak.”
Ilustrasi

Pagi-pagi aku harus mencari pekerjaan. Siang bolong dengan panas matahari aku terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Malam pun kembali ke kos dengan kaki pegal dan kepala penuh pertanyaan aneh. Dunia begitu jahat bagiku. Mungkin tembok selalu jadi teman setia menyaksikan tetesan air mata.

“Nak, minggu depan anaknya Om Berto mau masuk minta. Kita diberi tanggung jawab satu juta dengan dua kilogram beras. Mama di kampung kesusahan mendapatkan uang.” Pesan whatsApp ibu masuk. Aku memandangi layar HP cukup lama. Apalagi saldo rekeningku tidak banyak lagi. Namun, aku tahu ibu tidak akan meminta kalau ia tidak membutuhkan.

“Baik, Bu. Segera aku kirim yah.” Uang satu juta rupiah berpindah ke rekening ibu dalam hitungan detik. Secepat itu. “Terima kasih, Nak. Semangat bekerja anaku sayang.” Aku tersenyum kecil. Sembari mengais rindu kepada ibu. Ibu tidak pernah tahu bahwa uang satu juta itu membuat saldo rekeningku semakin menipis tak tau akan aku dapat dari mana lagi.

*****

Hari-hari terus aku jalani dengan amat khusuk. Tiba saat aku baru pulang dari wawancara kerja, pesan ibu kembali muncul dengan amat tenang. “Nak, bisakah kirim lima ratus ribu rupiah untuk membeli obat? Obat ibu sudah habis dari kemarin.” Aku berhenti berjalan sejenak. Sambil melihat ke arah langit yang mulai mendung. Aku bahkan belum makan siang sama sekali. Wawancara tadi juga tidak menghasilkan apa-apa. Ditambah lambungku sedikit kumat. Sakit sekali rasanya. Tetapi jariku tetap mengetik pelan.

“Baik, Bu. Segera aku kirim.” Beberapa detik kemudian uang berpindah dengan begitu cepat. “Terima kasih, Nak.” Aku memasukkan ponsel ke saku. Kadang aku ingin mengatakan kepada ibu bahwa aku juga sedang kesulitan dan sampai hari ini belum mendapatkan pekerjaan. Tetapi setiap kali mengingat ia tinggal sendirian di kampung, semua kata-kata itu menghilang.

Sejak ayah pergi lima belas tahun lalu, ibu memang hanya mengandalkan beberapa kamar kos yang disewakan kepada mahasiswa di tempat tinggal ibu. Ia sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Sudah bolak-balik rumah sakit. Obat-obatan hanya jadi makanan favoritnya.

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru