Bu! Batas Waktu Besok

“Nak, maaf merepotkan kamu. Ibu hanya tidak suka dibentak.”
Ilustrasi

“Ibu.” Ia tersenyum lepas. “Nak, kamu pulang?” Aku langsung memeluknya. Kenapa ibu semakin ringan? Aku tidak bertanya. Malam itu kami makan bersama. Aku memperhatikan ibu yang hanya makan beberapa sendok nasi. “Ibu benar-benar sehat?” “Sehat.” “Ibu sakit?” “Sedikit  saja.” “Kenapa tidak bilang?” Ibu hanya tunjukkan senyum uniknya. “Kalau ibu bilang, kamu pasti khawatir.” Aku terdiam seribu bahasa. Sebelum tidur, aku masuk ke kamar ibu untuk mengambil selimut. Di atas meja terdapat sebuah buku kecil. Aku membukanya. Catatan pengeluaran. Beras, listrik, obat, dan juga biaya rumah.

Kemudian ada beberapa tulisan yang membuatku berhenti. Jual gelang Rp1.500.000, jual televisi Rp2.000.000, uang kos  Rp800.000. Aku membalik halaman muncul  catatan lain. Jual mesin cuci  Rp1.200.000. Aku hanya tertegun. Mesin cuci yang pernah diminta uang untuk diperbaiki ternyata sudah dijual. Aku terus membaca. Di halaman berikutnya terdapat satu kalimat. “Jangan minta uang Nad lagi. Dia baru mulai bekerja.” Tanganku gemetar. Ternyata selama ini ibu bukan berhenti meminta karena memiliki banyak uang. Ia berhenti karena tidak ingin menjadi beban.

Aku menutup buku itu. Air mataku jatuh. Tiba-tiba dari ruang tengah terdengar suara ibu. “Nad.” Aku segera keluar. “Iya, Bu?” Ibu sedang berdiri di dekat pintu. “Jangan baca buku itu.” Aku terdiam. “Ibu kenapa?” Ibu tidak menjawab. “Ada masalah apa sebenarnya?” “Ibu baik-baik saja.” “Jangan bohong.” Ibu menatapku. Untuk beberapa detik kami hanya saling diam. Kemudian ibu berkata pelan. “Besok kamu pulang saja.” “Kenapa?” “Kerjaanmu.” “Aku bisa izin.” “Jangan.” Nada suara ibu kali ini berbeda. Aku semakin curiga. “Bu, sebenarnya ada apa?” Ibu menunduk. “Lupakan saja.”

Aku hendak mengejarnya ketika tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Ibu langsung menoleh. Wajahnya berubah. Seseorang mengetuk pintu. Tok. Tok. Tok. Ibu menggenggam tanganku. “Nad, jangan keluar.” “Siapa bu?” Ibu tidak menjawab. Ketukan terdengar lagi. Tok. Tok. Tok. Kemudian suara seorang laki-laki berewok dari luar. “Bu Agata, kami datang lagi.” Aku menatap ibu. “Ibu kenal?” Wajah ibu pucat. Laki-laki brewok itu kembali berbicara. “Kami hanya ingin menyelesaikan urusan rumah ini.” Aku merasakan tubuhku dingin sekali. “Rumah ini kenapa, Bu?” Ibu tidak menjawab. Aku berjalan menuju pintu. Tangannya menarik lenganku. “Jangan, Nad.” Aku menatap wajah ibu. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang selama ini disembunyikannya.

“Bu…” Matanya berkaca-kaca. “Kalau kamu tahu semuanya, kamu akan membenci ibu.” Aku menggeleng saja. “Tidak.” Ibu melepaskan tanganku. Kemudian ia berjalan menuju kamar. Aku mengikutinya. Di atas meja, buku catatan tadi terbuka pada halaman terakhir. Ada satu angka yang belum sempat kubaca. “Rp75.000.000.” Di bawahnya tertulis “Batas waktu besok.” Aku menatap ibu. “Ibu…” Namun sebelum ia menjawab, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih keras.

Tok. Tok. Tok. Aku berdiri di antara pintu dan ibu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu apakah uang yang kumiliki cukup untuk menyelamatkan rumah ini. Dan aku lebih takut lagi pada satu pertanyaan yang belum berani kutanyakan; Apa yang sebenarnya ibu korbankan selama ini untuk membesarkanku? *

 

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru