Bu! Batas Waktu Besok

“Nak, maaf merepotkan kamu. Ibu hanya tidak suka dibentak.”
Ilustrasi

****

Aku adalah satu-satunya anak yang masih bisa ibu harapkan. Setidaknya begitulah pikirku. Malam berikutnya, sebuah pesan kembali muncul dengan adem. “Nak, mesin cuci ibu rusak. Mau diperbaiki. Ibu minta kirim dua juta rupiah sekalian untuk beli beras.” Aku menatap pesan itu berkali-kali. Dua juta ibu? desahku kuat. Entah kenapa kali ini dadaku terasa panas ketika mendengarkan.

“Ibu, aku tidak punya uang lagi. Aku belum bekerja sampai hari ini. Apa ibu tidak bisa usahakan sendiri dulu?” Telepon masuk. Aku mengangkatnya. “Ibu juga sedang susah, Nak.” “Tapi aku juga susah, Bu!” Suaraku meninggi. Ibu terlalu sering meminta. Ibu aku juga kelaparan di sini. Ibu tidak tahu itu. “Memangnya Ibu pikir aku di Jakarta hidup enak? Aku belum punya pekerjaan tetap. Uangku tinggal sedikit. Kenapa Ibu selalu minta?”

Hening. Tak ada lagi suara. Tidak ada suara ibu. Beberapa detik kemudian sambungan terputus. Aku menyesal. Mati saja teleponya bu. Air mata menetes begitu saja di pusaran pipiku yang mungil. Tak lama sebuah pesan masuk. “Nak, maaf merepotkan kamu. Ibu hanya tidak suka dibentak.” Aku menutup mata. “Maaf, Bu. Aku terlanjur capek.”  Tidak ada balasan. Malam itu aku tidak bisa tidur. Ada rasa bersalah yang besar ketika berbicara nada tinggi dengan ibu.

*****

Seminggu kemudian, sebuah kabar mengubah hidupku. Lamaran kerjaku diterima. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan besar. Pekerjaan itu ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Teman-teman kerja baik. Atasanku masih muda dan cukup perhatian.

“Nad, saya lihat kamu bisa bekerja dengan baik. Untuk sementara kamu bantu saya sebagai asisten.” Suara bos muda yang begitu lembut, setelah sekian lama aku tak mendengar pujian ditelingaku. Aku hampir tidak percaya. Gajiku jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan. Hari itu pun aku langsung menghubungi ibu.

Halaman: 123456

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru