Menanti Uluran Tangan di Ujung Senja: Maria Fatima Bertahan di Rumah Bambu yang Hampir Roboh

Rumah sederhana yang menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Maria Fatima tampak rapuh dimakan usia. Dinding anyaman bambu yang dahulu kokoh kini telah lapuk dan berlubang di berbagai bagian. Tiang-tiang penyangga terlihat renta, sementara atap rumah menyisakan kekhawatiran setiap kali hujan deras dan angin kencang datang menerpa.
Mama Maria Fatima sedsng berdiri di depan rumah tempat tinggalnya.

Perspektifnusantara.Com, Sikka – Di usia senja yang seharusnya diisi dengan ketenangan dan rasa aman, Maria Fatima justru menjalani hari-harinya dalam kecemasan yang tak kunjung berakhir. Perempuan lanjut usia yang tinggal seorang diri di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka itu masih bertahan di sebuah rumah bambu tua yang kondisinya semakin memprihatinkan dan nyaris roboh.

Rumah sederhana yang menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Maria Fatima tampak rapuh dimakan usia. Dinding anyaman bambu yang dahulu kokoh kini telah lapuk dan berlubang di berbagai bagian. Tiang-tiang penyangga terlihat renta, sementara atap rumah menyisakan kekhawatiran setiap kali hujan deras dan angin kencang datang menerpa.

Di balik dinding bambu yang mulai keropos itu, Maria Fatima menghabiskan hari-harinya dalam kesederhanaan. Tidak ada kemewahan. Tidak ada kenyamanan. Yang ada hanyalah perjuangan seorang ibu tua mempertahankan hidup di tengah keterbatasan yang semakin berat.

Baca juga: SAMBUT BARU dan ARISAN PENDIDIKAN: Antara Anggaran dan Prioritas, Catatan Edukatif Untuk Masyarakat Sikka

Ketika malam tiba dan hujan turun mengguyur kampung, rasa takut menjadi teman yang setia menemani. Setiap hembusan angin membawa kekhawatiran baru bahwa rumah yang selama ini menaunginya bisa saja ambruk sewaktu-waktu.

“Kasihan Mama Tima. Beliau sudah tua. Rumahnya seperti ini dari tahun ke tahun. Kalau hujan deras atau angin kencang, kami juga ikut khawatir,” ungkap Susana Susan, warga Dusun Hepang.

Menurut warga sekitar, Maria Fatima dikenal sebagai sosok yang tabah dan tidak banyak mengeluh. Meski hidup dalam kekurangan, ia tetap menjalani hari-harinya dengan penuh kesabaran. Namun kondisi tempat tinggalnya kini membuat banyak warga merasa prihatin.

Baca juga: Strengthening Student Literacy Through Proper Indonesian

Rumah yang ditempatinya jauh dari standar hunian yang layak. Beberapa bagian bangunan menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Dinding yang lapuk, lantai yang sederhana, serta konstruksi bangunan yang telah menua menjadi gambaran nyata tentang kehidupan yang dijalani perempuan lansia tersebut.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru