Di tengah berbagai pembangunan yang terus berlangsung di berbagai wilayah, kisah Maria Fatima menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Di sebuah sudut kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, seorang ibu tua terus menunggu harapan yang mungkin tak pernah ia minta dengan suara lantang.
Ia tidak memiliki panggung untuk menyampaikan keluh kesahnya. Tidak ada sorotan lampu yang menerangi kehidupannya. Namun rumah bambu yang hampir roboh itu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Rumah itu menjadi simbol dari sebuah kenyataan yang membutuhkan perhatian bersama.
Warga Dusun Hepang berharap ada kepedulian dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga sosial, komunitas kemanusiaan maupun para dermawan yang tergerak hatinya untuk membantu Maria Fatima memperoleh tempat tinggal yang lebih layak.
Bagi mereka, harapan itu tidaklah berlebihan. Seorang ibu yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan bekerja dan berjuang untuk keluarganya semestinya dapat menikmati masa tua dengan rasa aman dan bermartabat.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya gedung yang berdiri atau panjangnya jalan yang dibangun. Keberhasilan itu juga terlihat dari seberapa besar perhatian diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan.
Hari ini, di Dusun Hepang, Maria Fatima masih menunggu. Menunggu di balik dinding bambu yang semakin rapuh. Menunggu apakah ada tangan yang terulur, mata yang melihat, dan hati yang tergerak untuk membantunya.
Sebab bagi Maria Fatima, sebuah rumah yang aman bukanlah kemewahan. Ia adalah harapan sederhana yang hingga kini masih ia nantikan di penghujung usianya.