Menanti Uluran Tangan di Ujung Senja: Maria Fatima Bertahan di Rumah Bambu yang Hampir Roboh

Rumah sederhana yang menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi Maria Fatima tampak rapuh dimakan usia. Dinding anyaman bambu yang dahulu kokoh kini telah lapuk dan berlubang di berbagai bagian. Tiang-tiang penyangga terlihat renta, sementara atap rumah menyisakan kekhawatiran setiap kali hujan deras dan angin kencang datang menerpa.
Mama Maria Fatima sedsng berdiri di depan rumah tempat tinggalnya.

Di tengah berbagai pembangunan yang terus berlangsung di berbagai wilayah, kisah Maria Fatima menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Di sebuah sudut kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, seorang ibu tua terus menunggu harapan yang mungkin tak pernah ia minta dengan suara lantang.

Ia tidak memiliki panggung untuk menyampaikan keluh kesahnya. Tidak ada sorotan lampu yang menerangi kehidupannya. Namun rumah bambu yang hampir roboh itu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Rumah itu menjadi simbol dari sebuah kenyataan yang membutuhkan perhatian bersama.

Warga Dusun Hepang berharap ada kepedulian dari berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga sosial, komunitas kemanusiaan maupun para dermawan yang tergerak hatinya untuk membantu Maria Fatima memperoleh tempat tinggal yang lebih layak.

Bagi mereka, harapan itu tidaklah berlebihan. Seorang ibu yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan bekerja dan berjuang untuk keluarganya semestinya dapat menikmati masa tua dengan rasa aman dan bermartabat.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya gedung yang berdiri atau panjangnya jalan yang dibangun. Keberhasilan itu juga terlihat dari seberapa besar perhatian diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan.

Hari ini, di Dusun Hepang, Maria Fatima masih menunggu. Menunggu di balik dinding bambu yang semakin rapuh. Menunggu apakah ada tangan yang terulur, mata yang melihat, dan hati yang tergerak untuk membantunya.

Sebab bagi Maria Fatima, sebuah rumah yang aman bukanlah kemewahan. Ia adalah harapan sederhana yang hingga kini masih ia nantikan di penghujung usianya.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler