Dalam Injil Yohanes hari ini Maria berdiri di dekat salib bersama beberapa perempuan dan “murid yang dikasihi Yesus”. Menarik bahwa Yohanes tidak menggambarkan mereka melarikan diri, tetapi tetap berdiri di sana. Dalam saat ketika Yesus mengalami penghinaan dan penderitaan terdalam, mereka memilih untuk tetap setia dan hadir.
Di kaki salib, Yesus berkata kepada Maria, “Ibu, inilah anakmu,” dan kepada murid itu, “Inilah ibumu.” Kata-kata ini bukan hanya tentang hubungan pribadi antara Maria dan murid tersebut. Dalam konteks Injil Yohanes, Maria menerima tugas keibuan yang baru: menjadi ibu bagi para murid, bagi mereka yang percaya dan mau tinggal dekat dengan Yesus.
Hari ini, dalam pesta Santa Perawan Maria Berdukacita, kita memandang Maria bukan hanya sebagai seorang ibu yang menangisi penderitaan Putranya, tetapi sebagai Bunda yang tetap berdiri dalam iman di kaki salib. Dukanya tidak menjauhkannya dari Tuhan; justru dalam penderitaan itu ia semakin bersatu dengan Putranya dan dengan karya keselamatan-Nya.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 11 September 2026
Semoga kita belajar dari Maria untuk tetap “berdiri” ketika hidup membawa kita pada salib: saat kehilangan, sakit, kecewa, atau ketika kita tidak memahami jalan Tuhan. Bersama Maria, Bunda Berdukacita, marilah kita tetap dekat dengan Yesus, percaya bahwa kasih-Nya lebih kuat daripada penderitaan dan kematian.