Selembar Kertas di Papan Pengumuman Kampus || Cerpen Martin Meli

Penulis: Martin Meli

Ada rasa lega yang mengalir pelan, tetapi belum sepenuhnya membebaskan. Bantuan itu belum cair hari ini. Artinya, ia masih harus mencari cara agar tetap terdaftar sebagai mahasiswa aktif. Raka mengucapkan terima kasih, lalu keluar dengan pikiran yang kembali penuh.

Mungkinkah Raka masih bisa dapat berkuliah hanya dengan mengandalkan hasil dari menjaga warung ?

Cukupkah ?

Baca juga: No Shortcut: Menemukan Arah Hidup Sejati di Tengah Godaan Jalan Pintas (Rm. Kristoforus Bobo Oki, Pr)

 

Pagi selalu datang lebih cepat bagi Raka. Bukan karena matahari tergesa-gesa, melainkan karena perutnya tak pernah benar-benar kenyang sejak ia belajar menyebut kata sendiri sebagai rumah. Di kamar petak berukuran tiga kali empat meter, yang lebih pantas disebut ruang singgah, ia bangun sebelum azan subuh. Jam dinding berderak pelan, menandai detik-detik yang harus dihemat. Waktu, baginya, adalah sesuatu yang selalu kurang.
Raka adalah mahasiswa semester tiga di sebuah Universitas Negeri. Di kartu mahasiswanya, namanya tercetak rapi, seolah hidupnya pun demikian. Padahal di balik huruf-huruf itu tersimpan riwayat yang terputus sejak kecil. Ayah dan ibunya telah pergi lebih dulu, meninggalkan ia pada usia ketika makna yatim piatu belum sepenuhnya dipahami, tetapi rasa kehilangan sudah tumbuh dan menetap.
Ia mencuci muka dengan air dingin dari bak plastik, mengenakan kemeja yang disetrika semalam setelah listrik kembali menyala, lalu merapikan rambut di depan cermin buram. Di luar, kota baru mulai bernafas. Warung-warung menyalakan kompor, para sopir memanaskan mesin, dan Raka menyiapkan dirinya untuk hari yang akan memeras tenaga sekaligus pikiran.
Pekerjaan pertamanya hari itu adalah menjaga warung kopi di ujung gang. Sejak pukul lima pagi, ia menyeduh kopi, mengelap meja, dan menerima uang receh dengan senyum yang ia latih setiap hari. Di sela-sela pesanan, ia membuka catatan kuliah yang terlipat rapi di saku. Teori tentang struktur sosial yang ia baca terasa seperti cermin, memantulkan hidupnya sendiri yang rapuh namun terus bergerak. Ia membaca cepat, menandai kalimat penting, lalu menutup buku ketika pelanggan datang.
Pukul delapan pagi, Raka bergegas menuju kampus. Seragam kerja berganti jaket almamater. Di kelas, ia duduk di bangku tengah, cukup dekat untuk mendengar penjelasan dosen, cukup jauh untuk tidak menarik perhatian. Ia menulis dengan tekun, meski kelopak matanya sesekali terasa berat. Ia tahu, tidur adalah kemewahan yang harus ditunda.
Usai kuliah, Raka tidak ikut duduk lama di kantin bersama teman-temannya. Ia melangkah ke warung makan tempat ia bekerja sebagai pencuci piring. Uap panas menyergap wajah, sabun mengikis kulit jari, dan tumpukan piring seolah tidak pernah berkurang. Di sana, ia belajar menghitung dengan cara paling sederhana. Berapa jam kerja untuk membeli satu buku. Berapa tumpukan piring untuk membayar satu semester.
Menjelang sore, ia berpindah tempat, menyemir sepatu di depan deretan toko. Sepatu-sepatu itu mengilap di tangannya, sementara sepatunya sendiri menua tanpa keluhan. Saat malam turun, Raka menarik ojek, mengantar orang-orang pulang ke rumah yang menunggu mereka. Ia pulang paling akhir, membawa lelah yang menempel di tubuh dan sisa harapan yang ia jaga diam-diam.
Di kamar petaknya, Raka menyalakan lampu. Buku kembali terbuka. Ia membaca, menulis, dan berdoa dalam sunyi. Di antara jam kuliah dan jam malam, ia menggantungkan hidupnya pada satu keyakinan sederhana. Bertahan hari ini adalah cara paling jujur untuk menjemput hari esok.
Hari-hari Raka berjalan seperti roda yang diputar tanpa henti. Pagi, siang, sore, dan malam saling menindih, seolah tak memberi ruang untuk bernapas. Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya, sementara pikirannya sering tertinggal, menuntut istirahat yang tak pernah datang.
Pada suatu pagi, di papan pengumuman fakultas, selembar kertas putih menunggu dengan bahasa yang dingin. Pengumuman pembayaran Uang Kuliah Tunggal. Raka berdiri lama di depan papan itu. Angka-angka tampak jelas, tetapi maknanya berputar-putar di kepalanya. Jumlah yang tertera bukan sekadar nominal, melainkan ancaman yang senyap. Ia menelan ludah, lalu mencatat tanggal jatuh tempo di buku kecilnya.
Sejak hari itu, jam tidurnya semakin pendek. Ia menambah giliran kerja. Dari menjaga warung kopi hingga larut malam, mencuci piring sampai punggungnya terasa patah, menyemir sepatu di bawah terik matahari, hingga menarik ojek saat hujan mengguyur tanpa ampun. Kadang ia pulang dengan pakaian basah, tangan gemetar, dan perut kosong. Namun setiap lembar uang yang diselipkan ke dalam amplop cokelat memberi alasan baru untuk bertahan.
Di kelas, Raka mulai sering diam. Ia tetap mencatat, tetapi pikirannya melayang pada angka-angka yang terus menghantui. Seorang dosen pernah menegurnya karena tampak pucat dan kurang fokus. Raka hanya tersenyum dan mengangguk, menyembunyikan letih yang tak tahu harus diceritakan kepada siapa.
Teman-temannya berbincang tentang rencana liburan dan kafe baru di sudut kota. Raka mendengar sambil lalu. Dunia mereka terasa jauh, bukan karena perbedaan mimpi, melainkan karena jarak hidup yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia memilih berjalan sendiri, bukan karena ingin, tetapi karena harus.
Suatu malam, motornya mogok di tengah jalan. Hujan turun deras, lampu jalan redup, dan kota terasa asing. Raka menuntun motor dengan sisa tenaga. Di saat seperti itu, bayangan orang tuanya sering datang tanpa diundang. Ia membayangkan ayah yang dulu mengajarinya mengayuh sepeda, ibu yang menyiapkan sarapan sederhana. Kenangan itu menghangatkan sekaligus melukai.
Sampai di kamar, Raka duduk lama di lantai. Ia membuka amplop cokelat itu. Uang di dalamnya belum cukup. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia membiarkan air mata jatuh tanpa berusaha menahannya. Tangisnya pelan, seperti takut mengganggu tetangga dan mimpinya sendiri. Namun di antara isak yang tertahan, Raka mengingat alasan ia memulai semuanya. Pendidikan adalah satu-satunya jalan yang ia percaya dapat mengubah nasib. Dengan tangan gemetar, ia mengelap wajah, menutup amplop, dan meletakkannya kembali di tas.
Di luar, hujan mulai reda. Raka berdiri, menyiapkan buku-buku untuk esok hari. Di tengah kelelahan yang menumpuk, tekadnya justru menemukan bentuk. Ia mungkin sendirian, tetapi ia belum kalah.
Pagi di kampus terasa lebih sunyi dari biasanya. Raka melangkah pelan melewati lorong fakultas dengan tas yang terasa lebih berat dari isinya. Di kepalanya, hitungan hari menuju batas pembayaran terus berulang, seperti jam yang berdetak terlalu keras. Ia mencoba menenangkan diri dengan membaca ulang catatan kuliah, tetapi huruf-huruf itu menari tanpa makna.
Di ruang kelas, dosen pengampu mata kuliah metodologi penelitian memanggil namanya. Raka sempat terkejut. Ia maju dengan langkah ragu, menunggu teguran atau pertanyaan yang sulit. Namun suara dosen itu terdengar berbeda, lebih pelan dan penuh perhatian. Ia menanyakan keadaan Raka, menyinggung tugas-tugas yang selalu dikumpulkan tepat waktu meski dengan tulisan tangan yang tampak terburu-buru.
Raka terdiam. Untuk sesaat, ia ingin menjawab singkat seperti biasa. Tetapi ada sesuatu dalam tatapan dosen itu yang membuat pertahanannya runtuh. Ia bercerita seadanya, tentang pekerjaan-pekerjaan yang ia jalani, tentang keterbatasan waktu, dan tentang kekhawatiran yang belakangan membuatnya sulit tidur. Ia tidak menyebut air mata, tidak pula meminta belas kasihan.
Dosen itu mendengarkan tanpa memotong. Di akhir percakapan, ia hanya berkata bahwa perjuangan Raka tidak sia-sia. Ia menyarankan Raka untuk mengajukan beasiswa bantuan mahasiswa kurang mampu dan berjanji akan memberikan rekomendasi. Kalimat itu sederhana, tetapi bagi Raka terdengar seperti cahaya kecil di ujung lorong panjang.
Hari itu, langkah Raka terasa sedikit lebih ringan. Ia menghabiskan siang dengan mengurus berkas-berkas, mengisi formulir, dan menunggu antrean panjang di kantor administrasi. Di antara tumpukan kertas dan stempel, ia belajar bahwa bertahan juga berarti berani berharap. Namun harapan tidak serta-merta menghapus kesulitan. Malamnya, Raka kembali bekerja hingga larut. Ia mengantar penumpang terakhir ke pinggiran kota, lalu mematikan mesin motor dengan tangan pegal. Di bawah langit yang gelap, ia menghela napas panjang. Hidupnya masih sama beratnya, tetapi kini ada alasan untuk melangkah sedikit lebih jauh.
Di kamar petak itu, Raka menempelkan salinan formulir beasiswa di dinding, berdampingan dengan jadwal kuliah. Ia memandanginya lama, seolah ingin mengingatkan diri sendiri bahwa usahanya telah tercatat, meski belum berbuah.
Malam semakin larut. Raka kembali membuka buku, menyiapkan diri untuk esok hari. Ia tahu jalan yang ditempuhnya masih panjang dan penuh kemungkinan gagal. Namun di balik kelelahan yang menumpuk, ia mulai percaya bahwa hidupnya tidak hanya tentang bertahan, melainkan juga tentang memberi makna pada setiap langkah.
Hari-hari setelah pengajuan beasiswa berjalan dengan ritme yang lebih sunyi, namun tidak lebih ringan. Raka menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya ia tunggu. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya ikut berdegup lebih cepat, berharap ada kabar yang mengubah arah hidupnya. Namun sebagian besar pesan hanyalah notifikasi pekerjaan atau grup kelas yang membahas tugas.
Di kampus, ia semakin sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Ruang itu menjadi tempat paling aman baginya: sunyi, sejuk, dan tidak menuntut apa pun selain kesungguhan. Di antara rak-rak buku yang tinggi, Raka merasa kecil, tetapi tidak sepenuhnya tak berarti. Ia membaca lebih lambat dari biasanya, mencatat dengan rapi, seolah setiap pengetahuan yang ia kumpulkan adalah tabungan lain selain uang.
Suatu siang, tubuhnya menyerah lebih dulu. Di bangku belakang perpustakaan, kepalanya terkulai di atas buku terbuka. Ia tertidur singkat, ditemani dengung pendingin ruangan dan bayangan mimpi yang terpotong. Dalam tidurnya, ia melihat dirinya duduk di meja makan sederhana, bersama orang tua yang wajahnya mulai kabur dimakan waktu. Ketika terbangun, matanya basah, dan ada sesak yang tak sempat diberi nama.
Sore itu, Raka kembali ke warung makan. Tumpukan piring lebih tinggi dari biasanya, dan pemilik warung tampak lebih mudah marah. Kata-kata keras meluncur tanpa disaring, menghantam Raka yang sudah lelah. Ia menunduk, bekerja lebih cepat, menelan semua tanpa balasan. Bukan karena ia setuju, tetapi karena ia tahu tidak punya ruang untuk melawan.
Di luar, langit berubah warna. Jam malam semakin dekat. Raka menyelesaikan pekerjaannya, menerima upah harian, lalu melipat uang itu dengan hati-hati. Ia menghitung ulang di bawah lampu temaram. Jumlahnya bertambah, tetapi waktu semakin menipis. Batas pembayaran tinggal beberapa hari lagi.
Malam itu, ia menarik ojek lebih lama dari biasanya. Kota memperlihatkan wajah lain: orang-orang pulang dengan tawa, pasangan yang berboncengan sambil berbincang, lampu-lampu rumah yang menyala hangat. Raka menjadi saksi perjalanan mereka, tanpa pernah benar-benar ikut tiba. Setiap tujuan penumpang adalah pengingat bahwa ia masih berada di tengah jalan.
Menjelang tengah malam, hujan turun lagi. Raka berhenti di bawah atap toko yang sudah tutup. Jaketnya basah, tulangnya menggigil. Dalam dingin itu, ia bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan tubuhnya sanggup diajak berlari. Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban, hanya kejujuran.
Di kamar petaknya, Raka menempelkan kalender kecil di dinding. Ia mencoret satu tanggal dengan tinta hitam. Hari berlalu, dan ia masih berdiri. Di antara jam kuliah dan jam malam, ia mulai memahami bahwa hidup tidak selalu memberi kepastian, tetapi selalu menuntut keberanian untuk tetap berjalan, meski dengan langkah yang tertatih.
Pagi itu datang dengan rasa berat yang menekan dada. Raka terbangun sebelum jam berbunyi, bukan karena siap memulai hari, melainkan karena pikirannya tak pernah benar-benar terlelap. Ia menatap langit-langit kamar yang mulai menguning, menghitung sisa hari seperti menghitung denyut nadi sendiri. Batas pembayaran tinggal dua hari lagi.
Di kampus, suasana terasa asing. Spanduk kegiatan mahasiswa terbentang di sepanjang lorong, menawarkan seminar, lomba, dan kesempatan yang bagi Raka terasa terlalu jauh. Ia melangkah melewatinya dengan kepala tertunduk. Di ruang administrasi, antrean mahasiswa mengular. Raka berdiri di sana bukan untuk bertanya, melainkan memastikan bahwa namanya belum dicoret dari daftar aktif. Ketika petugas mengangguk singkat, napasnya baru terasa longgar.
Di kelas, Raka menerima hasil kuis mingguan. Angka di sudut kertas itu cukup baik. Dosen menyebut namanya sebagai salah satu mahasiswa yang konsisten. Tepuk tangan kecil terdengar, dan Raka tersenyum tipis. Untuk sesaat, ia lupa pada amplop cokelat dan kalender di dinding. Prestasi itu sederhana, tetapi memberi pengingat bahwa usahanya tidak sepenuhnya tenggelam.
Siang hari, ia duduk di tangga gedung fakultas sambil menghabiskan sepotong roti murah. Angin berembus pelan, membawa suara tawa mahasiswa lain. Raka memejamkan mata, membiarkan dirinya berhenti sejenak. Ia sadar, tubuhnya tidak hanya lelah oleh pekerjaan, tetapi juga oleh ketakutan yang ia pikul sendirian.
Sore itu, kabar datang tanpa peringatan. Sebuah pesan singkat masuk dari bagian kemahasiswaan. Isinya singkat dan formal, permohonan beasiswa masih dalam proses, diminta menunggu hasil seleksi tahap berikutnya. Raka membaca berulang kali. Tidak ada kepastian, tetapi juga tidak ada penolakan. Harapan itu rapuh, namun cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.
Malamnya, Raka bekerja seperti biasa. Namun di tengah perjalanan mengantar penumpang, motornya kembali bermasalah. Mesin tersendat, lalu mati di pinggir jalan. Raka menepikan motor, memeriksa seadanya, dan menyadari bahwa ia tidak punya cukup uang untuk memperbaikinya. Di bawah lampu jalan yang pucat, ia duduk di trotoar, menatap lalu lintas yang terus bergerak tanpa memedulikannya.
Untuk pertama kalinya, Raka merasa benar-benar sendirian. Bukan karena tidak ada orang di sekitarnya, melainkan karena tidak ada tempat untuk bersandar. Ia menarik napas panjang, menahan gemetar yang datang dari tubuh dan hati. Ia sadar, satu kegagalan kecil bisa menjatuhkan semua yang telah ia bangun.
Dengan sisa tenaga, ia menuntun motor pulang. Langkahnya berat, tetapi tidak berhenti. Di kamar, Raka membersihkan diri sekadarnya, lalu duduk di lantai, bersandar pada dinding. Ia membuka buku catatan dan menulis satu kalimat pendek, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Aku belum boleh berhenti.
Malam kian larut. Di antara suara kota yang mereda, Raka memejamkan mata. Esok hari masih menunggu, dengan segala kemungkinan yang menakutkan sekaligus menjanjikan. Ia tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi ia tahu satu hal, selama ia masih berjalan, cerita ini belum selesai.
Hari terakhir sebelum batas pembayaran datang dengan sunyi yang menyesakkan. Raka bangun ketika cahaya pagi masih ragu-ragu menyentuh jendela kecil kamarnya. Udara terasa lebih dingin, seolah kota ikut menahan napas bersamanya. Ia duduk di tepi kasur, memandangi tas yang tergantung di dinding, tempat amplop cokelat itu disimpan. Hari ini, semuanya akan ditentukan.
Di kampus, Raka langsung menuju gedung administrasi. Langkahnya pelan, namun pasti. Lorong terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap pintu yang dilewati menyimpan kemungkinan, dan setiap detik yang berlalu menggerogoti ketenangannya. Ia belum membuka amplop itu pagi ini, takut mengetahui jumlah pastinya.
Di ruang kelas, Raka tetap mengikuti perkuliahan. Ia duduk dengan punggung tegak, berusaha menangkap setiap penjelasan dosen. Bukan karena pikirannya jernih, melainkan karena ia ingin bersikap setia pada perannya sebagai mahasiswa, apa pun yang akan terjadi setelah hari ini. Catatannya rapi, meski tangannya sesekali gemetar.
Menjelang siang, Raka dipanggil ke kantor fakultas. Jantungnya berdegup keras saat ia melangkah masuk. Seorang staf menyerahkan selembar kertas dengan cap resmi. Isinya singkat namun jelas. Beasiswa bantuan sementara disetujui, dengan catatan kelengkapan administrasi lanjutan. Raka membaca kalimat itu berulang kali, memastikan ia tidak salah memahami.
Ada rasa lega yang mengalir pelan, tetapi belum sepenuhnya membebaskan. Bantuan itu belum cair hari ini. Artinya, ia masih harus mencari cara agar tetap terdaftar sebagai mahasiswa aktif. Raka mengucapkan terima kasih, lalu keluar dengan pikiran yang kembali penuh.
Sore hari, ia menemui pemilik warung kopi dan meminta tambahan giliran kerja malam itu. Ia juga mendatangi warung makan, menawarkan diri untuk lembur. Tubuhnya protes, tetapi ia tidak memberi ruang untuk berhenti. Setiap jam adalah kemungkinan, setiap lelah adalah pertaruhan.
Malam turun dengan cepat. Raka bekerja tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya fokus pada satu tujuan. Ketika jam menunjukkan lewat tengah malam, ia menghitung uang hasil kerja hari itu. Jumlahnya masih kurang, tetapi tidak sejauh yang ia bayangkan.
Dengan langkah cepat, Raka menuju kampus yang hampir sepi. Di depan loket pembayaran, ia berdiri dengan napas tertahan. Amplop cokelat itu akhirnya dibuka. Uang di dalamnya pas, nyaris tanpa sisa. Ia menyerahkannya kepada petugas, menunggu konfirmasi dengan dada berdebar.
Bukti pembayaran dicetak dan diserahkan kepadanya. Selembar kertas itu terasa lebih berat daripada nilainya. Raka menggenggamnya erat, seolah takut lenyap. Di luar gedung, ia duduk di tangga, membiarkan malam menyelimuti tubuhnya yang gemetar oleh kelelahan dan lega yang datang bersamaan. Ia belum menang sepenuhnya. Jalan ke depan masih panjang. Namun malam itu, Raka tahu satu hal. Ia masih di sini, masih berjalan, dan masih memiliki hari esok untuk diperjuangkan.
Waktu tidak lagi berjalan seperti musuh bagi Raka. Hari-hari tetap padat, tetapi kini tertata. Ia belajar mengenali batas tubuhnya, membagi jam kerja, jam kuliah, dan jam istirahat dengan lebih jujur. Tidak selalu berhasil, tetapi ia tidak lagi terjatuh sejauh dulu. Setiap kesalahan menjadi pelajaran, bukan alasan untuk menyerah.
Semester demi semester terlewati. Nama Raka tetap tercatat sebagai mahasiswa aktif. Nilai-nilainya stabil, bahkan perlahan menanjak. Ia tidak lagi sekadar hadir di kelas, tetapi terlibat. Diskusi-diskusi yang dulu hanya ia dengarkan dari bangku tengah, kini berani ia masuki. Ia berbicara dengan suara yang masih sederhana, tetapi penuh keyakinan.
Beasiswa yang ia terima tidak membuat hidupnya menjadi mudah, namun cukup untuk memberinya ruang bernapas. Ia tetap bekerja, tetapi tidak lagi dikejar panik setiap malam. Amplop cokelat itu masih ada, kini berganti fungsi. Bukan lagi tempat menyimpan uang darurat, melainkan pengingat bahwa ia pernah berada di titik paling bawah dan berhasil melewatinya.
Di kamar petaknya, kalender berganti tahun. Dinding yang sama menyaksikan Raka belajar hingga larut, menulis proposal penelitian, dan merevisi bab demi bab tugas akhirnya. Ada malam-malam ketika ia hampir menyerah, ketika kalimat-kalimat terasa buntu dan kepala terlalu penuh. Namun ia selalu kembali pada satu kesadaran yang tumbuh perlahan, bahwa di sini, di bangku kuliah yang ia perjuangkan dengan seluruh tenaganya, ia sedang membuktikan sesuatu.
Ia membuktikan bahwa latar belakang tidak menentukan akhir. Ia membuktikan bahwa kemiskinan tidak selalu berujung pada kegagalan. Lebih dari itu, ia membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu menyelesaikan perkuliahannya sampai tuntas, sampai hari terakhir yang bernama wisuda.
Suatu sore, setelah menyerahkan revisi akhir skripsinya, Raka duduk lama di tangga fakultas. Angin kampus berhembus pelan, membawa suara mahasiswa baru yang masih riuh dengan mimpi-mimpi mereka. Raka tersenyum kecil. Ia pernah berada di titik itu, datang dengan tas sederhana dan harapan yang nyaris tak terlihat.
Kini, ia belum sampai di garis akhir. Namun jalannya sudah jelas. Langkahnya tidak lagi tertatih seperti dulu. Di antara jam kuliah dan jam malam yang pernah menguras seluruh hidupnya, Raka telah sampai pada satu kepastian. Ia tidak lagi sekadar bertahan, ia sedang menuju pulang dalam makna yang paling utuh.
Hari wisuda tiba dengan langit yang cerah, seolah kota sengaja memberi ruang bagi mereka yang telah menyelesaikan perjalanan panjang. Raka berdiri di depan cermin kamar petaknya, mengenakan toga yang dipinjamkan kampus. Kain hitam itu jatuh di bahunya dengan rapi, menyamarkan tubuh yang dulu terlalu sering lelah. Ia merapikan kerah kemeja, menarik napas panjang, lalu menatap pantulannya sendiri. Tidak ada sorak-sorai di kamar itu, hanya keheningan yang penuh makna.
Di aula wisuda, kursi-kursi dipenuhi keluarga mahasiswa. Orang tua menggenggam bunga, saudara sibuk menyiapkan kamera, tawa dan air mata bercampur tanpa malu. Raka melangkah masuk sendirian. Ia duduk di barisan mahasiswa, menatap ke depan dengan senyum yang ia jaga tetap utuh. Di sekelilingnya, kebahagiaan terasa ramai, sementara di dadanya, kebahagiaan hadir dengan cara yang lebih sunyi.
Namanya dipanggil. Raka berdiri, melangkah ke panggung dengan langkah mantap. Setiap tapak terasa ringan, seolah seluruh beban yang pernah ia pikul kini terlepas satu per satu. Ketika ijazah diserahkan, ia mendengar pengumuman yang membuat dadanya bergetar. Ia lulus tepat waktu, dengan predikat cum laude, bahkan disebut sebagai salah satu lulusan terbaik fakultas.
Tepuk tangan menggema. Raka menunduk hormat, menahan getar yang naik ke tenggorokan. Di tengah sorak itu, matanya menyapu kursi-kursi penonton. Tidak ada wajah ayah yang dulu mengajarinya bertahan, tidak ada ibu yang menyiapkan sarapan sederhana, tidak ada keluarga yang bisa ia cari di antara kerumunan. Ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Namun justru di ruang kosong itu, Raka merasakan kehadiran yang lain. Ia merasa ditemani oleh semua malam tanpa tidur, oleh hujan yang pernah mengguyur tubuhnya di jalan, oleh kamar petak yang menjadi saksi doa-doa paling jujur. Ia berdiri di sana bukan sebagai anak yang ditinggalkan, melainkan sebagai seseorang yang telah berjalan sejauh ini dengan kekuatannya sendiri.
Usai prosesi, Raka berdiri di halaman kampus. Teman-temannya berfoto bersama keluarga, saling berpelukan, merayakan akhir yang indah. Raka menitipkan toganya sebentar, lalu mengambil ponsel. Ia memotret dirinya sendiri dengan latar gedung fakultas. Senyumnya sederhana, matanya sedikit basah, tetapi wajahnya tenang.
Ia duduk di bangku taman, membuka pesan di ponselnya, lalu menulis satu kalimat yang tidak ia kirimkan kepada siapa pun. Aku sampai di sini. Kalimat itu cukup.
Sore menjelang, langit kembali berubah warna. Raka melangkah meninggalkan kampus dengan ijazah di tasnya. Tidak ada arak-arakan, tidak ada pesta. Namun langkahnya tegak. Di antara jam kuliah yang telah berlalu dan jam malam yang tak lagi menakutkan, Raka membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar gelar.
Ia membawa bukti bahwa hidup yang keras tidak selalu menang. Bahwa kesepian bisa dilalui. Bahwa mimpi, meski dijalani sendirian, tetap layak diperjuangkan. Dan di kota yang terus bergerak tanpa menunggu siapa pun, Raka akhirnya sampai pada satu titik yang dulu hanya berani ia doakan dalam sunyi.

*Martin Meli, Mahasiswa IFTK  Ledalero.

Baca juga: Percaya Diri Tanpa Kapasitas: Wajah Baru Krisis Publik || Opini Mariady Fransiskus Bata, Aktivis Gen Z di Maumere

 

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru