Menolak Lupa Cara Berpikir: Menjaga Nurani Pendidikan di Era AI

"Dr. Rasmin Austria, seorang akademisi dari University of the Cordilleras Filipina, melontarkan kritik reflektif yang kuat. Beliau mengingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan (over-reliance) pada AI berisiko menciptakan depersonalisasi dan menumpukan kemampuan berpikir kritis".
Penulis, Mahasiswa Semester IV Prodi Bahasa Inggris Unika Santo Paulus Ruteng.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Kehadiran Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT dan Gemini telah mengubah lanskap akademis secara radikal. Apa yang dulu membutuhkan waktu riset berbulan-bulan di perpustakaan, kini bisa tersaji di layar gawai dalam hitungan detik. Efisiensi ini ibarat sihir yang memanjakan para pembelajar. Namun, di balik kecepatan dan kemudahan yang ditawarkannya, sebuah ancaman senyap sedang mengintai, yaitu devaluasi proses berpikir dan hilangnya agensi kemanusiaan dalam dunia pendidikan.

Dalam ajang 6th International Conference on Humanities, Education, Language, and Culture (ICHELAC) yang digelar oleh Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng baru-baru ini, Dr. Rasmin Austria, seorang akademisi dari University of the Cordilleras Filipina, melontarkan kritik reflektif yang kuat. Beliau mengingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan (over-reliance) pada AI berisiko menciptakan depersonalisasi dan menumpukan kemampuan berpikir kritis. Pertanyaan mendasarnya: bagaimana manusia bisa merespons masalah nyata jika otaknya sudah terbiasa digantikan oleh mesin?

Ketika tugas menulis esai, menganalisis jurnal, atau menyusun makalah diserahkan sepenuhnya kepada AI, mahasiswa sebenarnya sedang terjebak dalam “ilusi pengetahuan”. Kita merasa pintar karena mampu menghasilkan teks yang terstruktur rapi dan berbobot akademis tinggi dalam sekejap. Padahal, otak kita tidak mengalami proses kognitif yang esensial, seperti memilah argumen, bergulat dengan kontradiksi data, hingga internalisasi nilai. Esai tersebut akhirnya hanyalah produk algoritma global, bukan cerminan otentik dari pemikiran kritis mahasiswa.

Baca juga: Kampus Cetak Sarjana, Tetapi Kamu yang Bentuk Dirimu

Menolak kehadiran AI di era digital tentu merupakan tindakan yang naif dan tidak realistis. Kuncinya bukan pada pelarangan total, melainkan pada tata kelola etika (ethical frameworks) yang tegas di tingkat institusi. Di sinilah pendidik harus bertransformasi menjadi penjaga gerbang etika (ethical gatekeepers). Dosen dan guru wajib menetapkan parameter yang jelas mengenai kapan AI boleh digunakan sebagai pemantik ide, dan kapan ia harus dilarang demi menjaga integritas akademik.

Selain regulasi, metode penilaian atau asesmen di ruang kelas juga harus dirombak secara radikal. Jika ujian hanya mengandalkan tugas tertulis yang rawan dimanipulasi oleh AI, maka penilaian tersebut sudah kehilangan validitasnya. Institusi pendidikan harus memperbanyak ruang dialektika langsung, seperti debat aktif, ujian lisan, refleksi berbasis pengalaman empiris, serta pemecahan masalah kontekstual yang melibatkan interaksi sosial nyata dan kearifan lokal (local wisdom).

Pada akhirnya, kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat yang tidak akan pernah memiliki nurani, empati, dan agensi moral. AI boleh saja memiliki kapasitas data yang tidak terbatas, namun manusia di dalam ruang kelas harus tetap memegang kendali penuh atas logikanya sendiri. Menjaga kemampuan berpikir mandiri dan kritis adalah benteng pertahanan terakhir yang membedakan martabat manusia dengan barisan kode biner mesin.

Baca juga: Generasi Muda dan Tantangan Demokrasi Masa Kini

 

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru