PERSPEKTIFNUSANTARA.COM–Pembaca yang budiman.
Antologi puisi berikut merupakan hasil pergumulan Oktavia Eriska. Eriska menampilkan titik terendah tokoh Aku ketika sesuatu yang berharga bagi dirinya harus berakhir.
Hal itu membuat dirinya harus protes kepada Tuhannya tentang semua yang telah diambil darinya.
Sebagai pembaca kita bisa menemukan makna sendiri dari puisi-puisi ini.
Selamat membaca.
USAI
Baca juga: ANTOLOGI PUISI II ||Martin Meli||
Disisa waktu yang kita miliki
Aku melewatinya sendiri
Menggenggam harap yang mulai patah
Memeluk asah yang perlahan runtuh
Diujung jalan yang pernah kita lewati
Langkahku terhenti
Hangat kasih kita perlahan menghilang
Dibawah pergi hembusan angin senja
Dilorong tua yang pernah kita telusuri
Sepih mulai merenggut riuh yang pernah kita ciptakan
Aku kewalahan melerai sunyi yang memelukku kian erat
Pun kesusahan mengusir sepih yang menggema di dasar jiwa
Di bangku taman yang pernah menjadi saksi kebersamaan kita
Aku memeluk kisah yang perlahan berakhir
Aku termenung, mencoba mencerna semuanya
Binar matamu, manis senyummu
Semakin ribut dalam ingatan
