Dari Aimere Menuju Altar Pelayanan: Kisah Panggilan Diakon Carli Ka’u, SVD yang Akan Ditahbiskan di Ledalero

Moto tahbisannya, “Bajuku telah kutanggalkan” (Kidung Agung 5:3), menggambarkan kesiapan total untuk meninggalkan kenyamanan pribadi demi menjawab panggilan Tuhan. Moto tersebut bukan hanya ungkapan simbolik, tetapi juga refleksi spiritual tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada karya pelayanan Gereja

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Maumere — Sukacita besar menyelimuti keluarga besar Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero menjelang perayaan tahbisan diakon yang akan digelar pada Minggu, 31 Mei 2026 di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero. Salah satu calon diakon yang akan menerima tahbisan suci tersebut ialah Diakon Carli Ka’u, SVD, bersama rekan-rekannya seangkatan.

Tahbisan diakon itu akan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, sebuah momentum rohani yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan panggilan para calon imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Di tengah tantangan zaman modern yang penuh dengan arus materialisme dan individualisme, pilihan hidup membiara dan melayani Gereja menjadi kesaksian iman yang luar biasa. Sosok Frater Carli Ka’u hadir sebagai gambaran seorang muda Katolik yang memilih jalan pengabdian demi pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

Baca juga: Idul Adha 1447 H Jadi Momentum Kebangkitan Persaudaraan, WHN Ajak Rakyat Indonesia Perkuat Solidaritas Sosial

Frater yang memiliki nama lengkap Fr. Carli Ka’u, Fransiskus, SVD itu lahir di Aimere pada 6 Februari 1997. Ia berasal dari Paroki St. Fransiskus dan Sta. Klara Aimere, Keuskupan Agung Ende. Dalam perjalanan hidupnya, Frater Carli dikenal sebagai pribadi sederhana, tenang, dan memiliki semangat misioner yang kuat.

Moto tahbisannya, “Bajuku telah kutanggalkan” (Kidung Agung 5:3), menggambarkan kesiapan total untuk meninggalkan kenyamanan pribadi demi menjawab panggilan Tuhan. Moto tersebut bukan hanya ungkapan simbolik, tetapi juga refleksi spiritual tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada karya pelayanan Gereja.

Perjalanan pendidikan Frater Carli dimulai di SDI Aimere pada tahun 2003 hingga 2009. Sejak kecil, ia telah menunjukkan minat besar terhadap kehidupan rohani dan pendidikan Gereja. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikan di SMPS Seminari Mataloko pada tahun 2009 hingga 2012, lalu melanjutkan ke SMAS Seminari Mataloko pada tahun 2012 hingga 2015.

Baca juga: KETIKA ROH KUDUS MENJANGKAU LERENG-LERENG SUNYI (Refleksi Pastoral atas Perayaan Pentakosta di Stasi Golo Wunis dan Watu Paci)

Lingkungan seminari menjadi tempat pembinaan awal yang membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan semangat hidup rohani dalam dirinya. Dari tempat itulah benih panggilan untuk menjadi imam semakin bertumbuh dan mengakar kuat.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru