Dari Aimere Menuju Altar Pelayanan: Kisah Panggilan Diakon Carli Ka’u, SVD yang Akan Ditahbiskan di Ledalero

Moto tahbisannya, “Bajuku telah kutanggalkan” (Kidung Agung 5:3), menggambarkan kesiapan total untuk meninggalkan kenyamanan pribadi demi menjawab panggilan Tuhan. Moto tersebut bukan hanya ungkapan simbolik, tetapi juga refleksi spiritual tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada karya pelayanan Gereja

Pada tahun 2015, Frater Carli melanjutkan perjalanan formasinya dengan memasuki Novisiat SVD Sang Sabda Kuwu-Ruteng. Masa novisiat menjadi tahap penting dalam pembentukan hidup religius, di mana seorang calon religius belajar tentang spiritualitas, hidup komunitas, doa, dan pelayanan.

Setelah menyelesaikan novisiat, ia melanjutkan studi filsafat di IFTK Ledalero pada tahun 2017 hingga 2021. Di kampus yang dikenal sebagai pusat pendidikan calon imam dan intelektual Gereja di Indonesia Timur tersebut, Frater Carli ditempa dalam pemikiran filsafat, teologi, dan kemanusiaan.

Tidak hanya dibentuk secara akademik, Frater Carli juga mendapat pengalaman internasional melalui masa OTP (Overseas Training Program) di Provinsi SVD China (Taiwan) pada tahun 2021 hingga 2024. Pengalaman lintas budaya itu menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan misionernya sekaligus memperkuat identitasnya sebagai calon misionaris SVD.

Pengalaman di Taiwan tidak hanya mempertemukannya dengan masyarakat yang berbeda budaya dan bahasa, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana Gereja hadir di tengah masyarakat global yang terus berubah. Semangat pelayanan lintas bangsa dan budaya inilah yang menjadi ciri khas Serikat Sabda Allah.

Kini, Frater Carli sedang menyelesaikan Studi Magister Teologi di IFTK Ledalero pada periode 2024–2026 sebagai bagian dari persiapan menuju tahbisan dan pelayanan pastoral yang lebih mendalam. Setelah tahbisan nanti, ia juga direncanakan menjalani misi di Irish and British SVD Province, sebuah bentuk perutusan internasional yang menunjukkan kesiapan untuk melayani Gereja universal.

Tahbisan diakon sendiri merupakan tahap penting sebelum tahbisan imam. Dalam Gereja Katolik, seorang diakon dipanggil untuk melayani Sabda, altar, dan karya kasih. Karena itu, tahbisan bukan hanya soal status religius, melainkan komitmen hidup untuk menjadi pelayan umat dengan penuh kerendahan hati.

Perayaan tahbisan yang akan berlangsung di Kapela Agung Seminari Santo Paulus Ledalero diperkirakan akan dihadiri keluarga, umat, para imam, biarawan-biarawati, serta sahabat dari berbagai daerah. Momen tersebut menjadi sukacita bersama bagi Gereja lokal, khususnya umat Paroki Aimere dan Keuskupan Agung Ende.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler