Pesta Babi: Papua sebagai “ruang kosong” ?

"Paradoks terbesar yang disorot film ini ialah bahwa proyek-proyek yang diklaim membawa kesejahteraan justru menghasilkan penghancuran sumber kehidupan masyarakat lokal. Dalam logika kapitalisme global, keuntungan ekonomi sering kali ditempatkan di atas keselamatan manusia dan keberlanjutan ekologis. Secara ilmiah, situasi ini dapat dipahami melalui konsep ecological injustice, yaitu ketidakadilan yang muncul ketika kelompok rentan menanggung dampak terbesar dari eksploitasi lingkungan, sementara keuntungan ekonomi dinikmati kelompok yang memiliki modal dan kekuasaan".
Martin Meli: Penulis, berasal dari Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Saat ini ia adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero yang menekuni studi teologi. Ia memiliki minat pada dunia pendidikan, refleksi iman dan pengabdian kepada masyarakat.

Kondisi ini memperlihatkan bentuk structural violence atau kekerasan struktural. Kekerasan tidak selalu hadir melalui tindakan fisik langsung, tetapi melalui sistem yang membuat masyarakat kehilangan hak hidup, rasa aman, dan kebebasan menentukan masa depannya.

Militerisasi ruang hidup masyarakat adat memperlihatkan bahwa konflik agraria di Papua bukan semata-mata konflik ekonomi, tetapi juga konflik politik dan kekuasaan. Negara cenderung melihat perlawanan masyarakat adat sebagai ancaman terhadap stabilitas pembangunan. Padahal, dalam negara demokratis, kritik dan penolakan masyarakat terhadap proyek pembangunan seharusnya dipahami sebagai bagian dari hak warga negara, bukan sebagai ancaman keamanan.

Film ini secara kritis memperlihatkan bahwa pembangunan yang dipaksakan melalui relasi kuasa represif berpotensi melahirkan trauma sosial berkepanjangan.

 

Kritik terhadap Narasi Nasionalisme Pembangunan

Film dokumenter ini juga penting karena mengkritik narasi nasionalisme pembangunan. Negara sering menggunakan argumentasi “kepentingan nasional” untuk membenarkan pengambilalihan ruang hidup masyarakat adat. Persoalannya, konsep kepentingan nasional sering kali ditentukan oleh elite politik dan ekonomi tanpa mempertimbangkan keadilan sosial bagi masyarakat lokal. Akibatnya, masyarakat adat diminta berkorban demi proyek nasional yang manfaatnya belum tentu mereka rasakan.

Film ini mempertanyakan logika pembangunan yang menganggap pengorbanan masyarakat adat sebagai sesuatu yang wajar demi pertumbuhan ekonomi negara. Dalam perspektif etika politik, pendekatan seperti ini problematis karena menjadikan manusia sebagai alat bagi kepentingan ekonomi.

Nasionalisme sejati seharusnya tidak dibangun di atas penderitaan kelompok rentan. Negara tidak dapat disebut berhasil apabila pembangunan justru menghasilkan ketimpangan, penghancuran budaya, dan kerusakan ekologis.

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru