Pesta Babi: Papua sebagai “ruang kosong” ?

"Paradoks terbesar yang disorot film ini ialah bahwa proyek-proyek yang diklaim membawa kesejahteraan justru menghasilkan penghancuran sumber kehidupan masyarakat lokal. Dalam logika kapitalisme global, keuntungan ekonomi sering kali ditempatkan di atas keselamatan manusia dan keberlanjutan ekologis. Secara ilmiah, situasi ini dapat dipahami melalui konsep ecological injustice, yaitu ketidakadilan yang muncul ketika kelompok rentan menanggung dampak terbesar dari eksploitasi lingkungan, sementara keuntungan ekonomi dinikmati kelompok yang memiliki modal dan kekuasaan".
Martin Meli: Penulis, berasal dari Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Saat ini ia adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero yang menekuni studi teologi. Ia memiliki minat pada dunia pendidikan, refleksi iman dan pengabdian kepada masyarakat.

Film dokumenter ini mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali makna kemajuan, pembangunan, dan nasionalisme. Apabila pembangunan dilakukan dengan menghancurkan hutan, meminggirkan masyarakat adat, serta merusak keseimbangan ekologis, maka pembangunan tersebut sesungguhnya sedang menciptakan krisis kemanusiaan baru.

Film ini menjadi pengingat bahwa keadilan sosial tidak dapat dipisahkan dari keadilan ekologis. Masa depan bangsa tidak dapat dibangun dengan mengorbankan manusia, budaya, dan alam demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

 

Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.

 

 

Halaman: 12345

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru