Fenomena ini menunjukkan bahwa inkulturasi iman masih hidup secara nyata di tengah masyarakat Manggarai. Gereja hadir bukan untuk menghilangkan identitas budaya masyarakat, melainkan untuk berjalan bersama budaya itu menuju nilai-nilai yang semakin manusiawi dan ilahi. Karena itu, perayaan liturgi yang melibatkan unsur budaya lokal bukan hanya memperkaya perayaan, tetapi juga memperkuat identitas umat sebagai Gereja yang hidup dalam konteks budaya tertentu.
Sesudah perayaan misa, saya kembali mengalami hangatnya kebersamaan umat melalui kegiatan olahraga bola voli bersama masyarakat. Kegiatan sederhana tersebut ternyata menjadi ruang perjumpaan yang sangat manusiawi. Tidak ada sekat antara pelayan Gereja dan umat. Semua hadir sebagai bagian dari keluarga besar Gereja yang hidup dalam semangat persaudaraan. Dalam suasana santai itu terbangun komunikasi yang akrab dan penuh kegembiraan.
Pada malam harinya, saya ikut bergabung dalam doa rosario bersama umat di salah satu Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Pengalaman doa bersama umat menjadi salah satu pengalaman yang sangat menyentuh hati saya. Dalam kesederhanaan rumah umat dan doa yang sederhana, saya merasakan kedalaman iman yang hidup di tengah masyarakat. Setelah doa rosario selesai, kami melanjutkan dengan berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari, perjuangan keluarga, tantangan ekonomi, pendidikan anak-anak, dan kehidupan menggereja.
Percakapan-percakapan sederhana itu justru memperlihatkan wajah Gereja yang paling nyata. Gereja bukan pertama-tama soal bangunan megah atau struktur organisasi, tetapi tentang persekutuan umat yang hidup dalam doa, solidaritas, dan perhatian satu sama lain. Saya melihat bahwa umat di stasi-stasi kecil memiliki daya tahan iman yang luar biasa. Mereka hidup dalam keterbatasan, tetapi tetap menjaga iman dengan penuh kesetiaan.
Pengalaman bersama umat di Golo Wunis dan Watu Paci juga memperlihatkan bahwa karya Roh Kudus terus hidup dalam kehidupan Gereja hingga hari ini. Roh Kudus tidak hanya bekerja melalui peristiwa-peristiwa besar dan spektakuler, tetapi juga melalui pengalaman sederhana: penerimaan yang tulus, doa bersama, nyanyian umat, kebersamaan dalam olahraga, dan percakapan penuh kehangatan. Dalam semua pengalaman itu, saya melihat bagaimana Roh Kudus mempersatukan umat dalam kasih dan persaudaraan.
Saya kembali ke tempat tugas pada Senin, 25 Mei 2026, dengan hati yang penuh rasa syukur. Kehadiran saya mungkin membawa sukacita bagi umat, tetapi sesungguhnya saya sendirilah yang merasa diperkaya oleh pengalaman tersebut. Perjumpaan dengan umat di stasi-stasi pegunungan itu menjadi pengalaman iman yang sangat mendalam dan pengalaman berahmat dalam perjalanan panggilan hidup saya.
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa Gereja sesungguhnya hidup dalam kesederhanaan umat. Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya akses, umat tetap menunjukkan semangat iman yang luar biasa. Mereka menjaga kebersamaan, merawat budaya, dan memelihara kehidupan rohani dengan setia. Di tempat-tempat sederhana seperti itulah Gereja menemukan wajahnya yang paling otentik.
