Dalam film Pesta Babi, ketakutan ini tampak dalam representasi masyarakat yang tidak memiliki ruang aman untuk menyuarakan pandangannya. Akibatnya, keheningan menjadi fenomena kolektif yang terus berulang. Opini publik pun tidak lagi mencerminkan keragaman suara yang sebenarnya.
Peran media dalam membentuk realitas tersebut tidak dapat diabaikan. Media memiliki kekuatan untuk menentukan isu apa yang dianggap penting dan bagaimana isu tersebut dipersepsikan oleh publik. Dalam perspektif teori komunikasi massa, proses ini dikenal sebagai framing (Morissan, 2014, hlm. 102). Ketika media lebih banyak mengangkat perspektif dominan, maka perspektif alternatif cenderung terpinggirkan.
Film Pesta Babi secara implisit mengkritik kondisi ini dengan menghadirkan narasi tandingan. Kritik tersebut menunjukkan bahwa media tidak selalu netral, melainkan sarat dengan kepentingan. Dalam situasi ini, politik keheningan menjadi bagian dari struktur komunikasi yang lebih luas.
Di era digital, spiral keheningan justru menemukan bentuk baru yang lebih kompleks. Media sosial memang membuka ruang partisipasi, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial yang tidak kecil.