JAKER Gelar Diskusi Kebudayaan, Soroti Krisis Makna dan Budaya Instan di Era Digital

Budaya instan telah menciptakan kecenderungan baru dalam kehidupan masyarakat. Segala sesuatu dituntut serba cepat, praktis, dan mudah dikonsumsi. Akibatnya, banyak nilai budaya yang sebelumnya hidup dalam tradisi masyarakat mulai kehilangan ruangnya.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM- JAKARTA — Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memahami, memproduksi, hingga mengonsumsi kebudayaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, muncul kekhawatiran mengenai memudarnya makna budaya dan melemahnya ingatan kolektif masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pengurus Pusat Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER). Melalui sebuah press release bertajuk “Merawat Ingatan di Tengah Budaya Instan dan Krisis Makna di Era Digital”, JAKER menyoroti berbagai persoalan sosial dan budaya yang muncul akibat dominasi budaya instan di ruang digital.

Dalam rilis yang diterbitkan pada Selasa (19/05/2026), JAKER menilai bahwa kebudayaan kini semakin sering dipahami secara cepat dan dangkal. Informasi bergerak begitu cepat melalui media sosial dan berbagai platform digital, sehingga masyarakat lebih banyak menerima potongan-potongan informasi singkat dibanding pemahaman yang mendalam.

Baca juga: Diskusi 'Pesta Babi' AWAS, Peserta Refleksikan Isu Agraria Hingga Rencana Pembukaan Yon TP di Sikka

Menurut JAKER, budaya instan telah menciptakan kecenderungan baru dalam kehidupan masyarakat. Segala sesuatu dituntut serba cepat, praktis, dan mudah dikonsumsi. Akibatnya, banyak nilai budaya yang sebelumnya hidup dalam tradisi masyarakat mulai kehilangan ruangnya.

“Tradisi lisan, kesenian rakyat, serta nilai-nilai sosial seperti gotong royong perlahan kehilangan ruang hidupnya dalam praktik keseharian,” tulis JAKER dalam pernyataannya.

Fenomena tersebut terlihat jelas dalam dinamika ruang publik digital saat ini. Perdebatan di media sosial sering kali dipenuhi kontroversi dan sensasi yang lebih cepat menarik perhatian publik dibanding pembahasan yang bersifat mendalam dan substantif. Bahkan, isu-isu politik dan konflik geopolitik internasional sering disederhanakan menjadi narasi singkat yang emosional dan mudah viral.

Baca juga: Smater Mengukir Prestasi, SMK Negeri 3 dan SMK Yohanes XXIII Menguntit

JAKER menilai bahwa situasi tersebut menunjukkan adanya pergeseran fungsi ruang publik. Ruang yang seharusnya menjadi tempat pertukaran gagasan, refleksi, dan pembentukan kesadaran bersama kini cenderung berubah menjadi ruang reproduksi sensasi dan konsumsi cepat.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru