Langit sore di kampung itu selalu punya cara untuk membuat hati terasa lebih sunyi. Warna jingganya seolah menelan semua harapan yang sempat tumbuh di dada Glina. Ia berdiri di ujung jalan tanah, tempat ia biasa menunggu seseorang yang kini tak lagi datang.
Namanya Glen.
Mereka pernah percaya bahwa cinta cukup untuk menyatukan segalanya. Bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya sendiri. Tapi hari itu, Glina mulai mengerti—tidak semua doa sampai ke tempat yang diharapkan.
“Kalau nanti kita sudah siap, saya akan datang melamar,” kata Glen dulu, dengan mata yang penuh keyakinan.
Baca juga: Selembar Kertas di Papan Pengumuman Kampus || Cerpen Martin Meli
Glina hanya tersenyum, menyembunyikan kegelisahan yang tak pernah benar-benar ia pahami saat itu. Ia tahu, di kampung mereka, cinta bukan satu-satunya syarat untuk bersama. Ada adat yang harus dipenuhi, ada harga yang harus dibayar—belis.
Belis bukan sekadar angka. Ia adalah kehormatan, harga diri keluarga, dan simbol penghargaan. Tapi bagi Glina, belis perlahan berubah menjadi dinding tinggi yang memisahkan dirinya dari orang yang ia cintai.
Hari-hari berlalu, dan Glen mulai jarang datang. Bukan karena ia tak ingin, tetapi karena ia tak mampu. Glina mendengar kabar dari orang-orang—bahwa keluarga Glen sedang berusaha mengumpulkan belis yang diminta keluarganya. Jumlahnya tidak kecil.
“Ini bukan soal cinta saja,” kata ayah Glina suatu malam. “Ini tentang martabat keluarga kita.”
