Ada rindu, ada luka, ada pertanyaan yang tak pernah mendapat jawaban.
Glen ingin melangkah masuk, ingin berteriak bahwa ia sudah datang, bahwa ia sudah membawa semua yang diminta. Tapi kakinya terasa berat, seolah terikat oleh kenyataan.
Sementara Glina hanya bisa menggenggam kainnya erat, menahan diri agar tidak berlari keluar.
Waktu seolah berhenti, tapi dunia tetap berjalan.
Akhirnya, Glen berbalik.
Ia pergi tanpa suara, membawa cinta yang tak sempat menjadi nyata.
Malam itu, Glina kembali berdoa. Tapi kali ini, ia tidak meminta apa-apa.
Ia hanya menangis.
Ia tahu, ada doa yang memang tidak pernah sampai.
Bukan karena tidak tulus,
bukan karena tidak cukup kuat,
tetapi karena takdir sudah lebih dulu menutup pintunya.
Sejak hari itu, langit sore di kampung itu tetap sama—indah, tapi menyimpan kesedihan yang tak terlihat.
Dan di antara warna jingga yang memudar,
tersimpan kisah tentang dua hati
yang saling mencinta,
namun dipisahkan oleh sesuatu yang tak bisa mereka lawan.
Belis.
Sebuah tradisi yang dijaga dengan kehormatan,
namun diam-diam pernah mematahkan
cinta yang paling tulus.
Permenungan Panjang Soal Belis di NTT
