Glina menunduk. Ia ingin berkata bahwa hatinya bukan barang yang bisa ditukar. Tapi kata-kata itu hanya berhenti di tenggorokan.
Sementara itu, Glen berjuang dalam diam. Ia bekerja di kota, mengambil apa saja yang bisa menghasilkan uang. Dari pagi hingga malam, dari panas hingga hujan. Semua ia lakukan demi satu tujuan: kembali dan membawa Glina pulang sebagai istrinya.
Namun dunia tak selalu berpihak pada niat baik. Suatu malam, Glen menelepon Glina. Suaranya terdengar lelah, tapi masih menyimpan harap.
“Glina, tunggu saya, ya. Saya hampir cukup.”
Glina menggenggam telepon itu erat, air matanya jatuh tanpa suara.
“Saya selalu tunggu, Glen,” jawabnya pelan. Tapi waktu terus berjalan, dan tekanan dari keluarga semakin besar.
“Sudah ada yang datang melamar kamu,” kata ibunya suatu pagi. “Dia siap dengan semua belis yang diminta.”
Glina terdiam. Dunia seolah berhenti berputar.
“Kalau kamu terus menunggu orang yang tidak pasti, kamu bisa kehilangan segalanya,” lanjut ibunya.
“Mama… bagaimana dengan perasaan saya?” tanya Glina lirih.
Ibunya menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kadang, perasaan harus dikorbankan demi kebaikan yang lebih besar.”
