Kutemui rindu di pojok kata,
Terselip antara “hai” dan “jaga”.
Tak diucap, tapi hidup di jeda,
Menggigil dalam diam yang fana.
Kau tulis titik, kubaca koma,
Kau bilang sudah, kumakna lama.
Di pojok kata kita bersembunyi,
Takut jatuh, takut kembali.
Kata Terakhir
Kata terakhir bukan selamat tinggal,
Tapi napasmu yang menggantung pelan.
Bukan janji, bukan juga dendam,
Hanya ruang kosong sedalam makam.
Kusimpan ia di saku dada,
Kubaca ulang saat dunia hampa.
Kata terakhir itu namamu,
Yang kupanggil saat tak ada kamu.
Tepi Bulan
Kita duduk di tepi bulan,
Kaki menggantung, hati mengayun.
Bintang jatuh tak sempat pesan,
Cahaya kita pun rapuh di ujung.
Kau bilang rindu itu bulat,
Kubilang tidak, ia sabit.
Di tepi bulan kita tersesat,
Antara iya dan nyaris sakit.
Mentari Sunyi
Mentari terbit tanpa sorak,
Menyapa bumi yang tak menoleh.
Cahayanya patuh, tak berontak,
Meski tak ada yang peduli, boleh.
Ia bakar diri dalam sepi,
Agar bayangmu tetap punya arti.
Mentari sunyi itu aku,
Yang menyala walau tak kau tunggu.
