Kumpulan Puisi Arnold Bewat: Menyusuri Rasa di Antara Kata dan Keheningan

Arnold Bewat

Jejak Bayangan

Kau pergi, tapi bayangmu tinggal,
Menempel di dinding, di lantai, di bantal.
Kusapu ia dengan doa, gagal,
Kuhapus ia dengan lupa, mental.
Jejak bayangan tak punya suara,
Tapi paling keras saat bicara.
Ia ingatkan: yang hilang itu nyata,
Walau tak lagi punya rupa.

Langkah Ketiga

Langkah pertama mencari arah,
Langkah kedua menahan goyah.
Langkah ketiga aku menyerah,
Bukan pada jalan, tapi pada resah.
Sebab di langkah ketiga kusadar,
Kakimu tak lagi sejajar.
Maka kubelok, kupeluk udara,
Kulanjutkan tanpa siapa-siapa.

Kata yang Bisu

Ada kata yang lahirnya bisu,
Tak bertenggorok, tak beribu.
Ia tumbuh di sela kalbu,
Mekar saat kau jauh.
Tak bisa ditulis, tak bisa lagu,
Hanya gemetar di ujung kuku.
Kata yang bisu itu “aku”,
Yang tak selesai tanpamu.

Profil Singkat

Arnold Bewat merupakan nama pena seorang cerpenis dan pegiat sastra yang telah berkarya sejak masa SMA. Alumni STFK Ledalero ini pernah mempublikasikan sejumlah cerpen dan puisi di berbagai media, termasuk Pos Kupang dan Majalah Warta Flobamora.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru