Tantang Dominasi AI, SMPK Alvarez Paga Fokus Cetak Generasi Penulis Muda

Walaupun kita dihadapkan pada tantangan besar berupa penggunaan AI, anak-anak di sini tetap konsisten menggunakan metode penelitian asli, seperti wawancara langsung. Kesulitan utama memang pada penyusunan alur pikir dan tata bahasa, namun mereka sangat terbuka terhadap perbaikan
FOTO - Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kian masif, SMPK Alvarez Paga mengambil langkah berani untuk menjaga orisinalitas berpikir siswanya. Sekolah ini kembali menyelenggarakan ujian Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai syarat pematangan mental dan pengasahan daya cipta siswa sebelum melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. ​Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin sejak tahun 2024 ini dimulai pada Senin (4/5/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga Jumat mendatang. Sebanyak 103 siswa, yang terdiri dari 60 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan, berkompetisi memaparkan hasil riset mereka di hadapan penguji.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang kian masif, SMPK Alvarez Paga mengambil langkah berani untuk menjaga orisinalitas berpikir siswanya. Sekolah ini kembali menyelenggarakan ujian Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai syarat pematangan mental dan pengasahan daya cipta siswa sebelum melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

​Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin sejak tahun 2024 ini dimulai pada Senin (4/5/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga Jumat mendatang. Sebanyak 103 siswa, yang terdiri dari 60 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan, berkompetisi memaparkan hasil riset mereka di hadapan penguji.

​Salah satu sorotan dalam ujian kali ini adalah karya dari Maria Yasinta Dhapa, siswi kelas VIIB. Ia mengangkat tema yang sangat relevan bertajuk “Dampak Negatif Penggunaan AI Terhadap Proses Pembelajaran Siswa di SMPK Alvarez”.

Baca juga: Anak di Bawah Umur Diduga Jadi Korban Pencabulan di Insana, Polisi Lakukan Penyelidikan

Dalam paparannya, Maria mengkritisi bagaimana kemudahan teknologi jika tidak dibarengi dengan kebijakan penggunaan, justru dapat mengikis kemampuan belajar mandiri siswa.
​Guru pembimbing sekaligus penguji, Patrianus Setu, menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan siswa tetap konsisten pada metode penelitian konvensional yang jujur.

​“Walaupun kita dihadapkan pada tantangan besar berupa penggunaan AI, anak-anak di sini tetap konsisten menggunakan metode penelitian asli, seperti wawancara langsung. Kesulitan utama memang pada penyusunan alur pikir dan tata bahasa, namun mereka sangat terbuka terhadap perbaikan,” ujar Patrianus yang telah membidangi program ini selama tiga tahun.

​Proses Panjang dan Disiplin Ketat

​Keberhasilan para siswa ini tidak diraih secara instan. Seluruh peserta telah melewati masa pendampingan intensif selama enam bulan.

Baca juga: Rehabilitasi Terumbu Karang di Teluk Maumere Libatkan Lintas Sektor, Tanam 1.200 Fragmen

Dalam presentasinya, siswa tidak hanya mahir berbicara, tetapi juga kreatif dalam menggunakan media pendukung seperti pamflet dan flyer untuk mempermudah audiens memahami gagasan mereka.

Halaman: 12

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru