PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Perayaan Hari Raya Pentakosta selalu menghadirkan makna yang mendalam dalam kehidupan Gereja. Pentakosta tidak hanya dipahami sebagai peristiwa turunnya Roh Kudus atas para rasul, tetapi juga sebagai momentum pembaharuan iman, penguatan persaudaraan, dan peneguhan perutusan Gereja di tengah dunia. Roh Kudus bekerja dalam berbagai cara dan situasi kehidupan manusia, termasuk melalui pengalaman-pengalaman sederhana di tengah umat kecil di pelosok-pelosok wilayah pastoral. Dalam konteks inilah saya mengalami sebuah pengalaman iman yang sangat berharga ketika merayakan Hari Raya Pentakosta bersama umat di Stasi Golo Wunis dan Watu Paci, Paroki Tanggar, Lambaleda Selatan, Manggarai Timur, pada Minggu, 24 Mei 2026.
Perjalanan menuju Stasi Golo Wunis dimulai pada Sabtu, 23 Mei 2026. Saya menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam menggunakan sepeda motor melewati medan pegunungan yang cukup menantang. Jalan-jalan berbatu, tanjakan, dan tikungan yang panjang menjadi bagian dari perjalanan menuju wilayah stasi tersebut. Namun di balik perjalanan yang melelahkan itu, terbentang panorama alam Manggarai Timur yang begitu indah dan menenangkan. Hamparan bukit hijau, udara pegunungan yang sejuk, dan suasana alam yang masih asri menghadirkan pengalaman batin tersendiri. Perjalanan itu tidak hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan rohani yang membawa saya masuk ke dalam pengalaman perjumpaan dengan umat dan dengan Tuhan yang hadir dalam kesederhanaan hidup masyarakat.
Sesampainya di Stasi Golo Wunis sekitar pukul satu siang, saya mengalami sebuah sambutan yang sungguh mengesankan. Kehadiran saya diterima secara adat Manggarai oleh para tokoh adat dan pengurus stasi. Sambutan adat tersebut menjadi sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dalam tradisi Manggarai, penerimaan adat bukan sekadar formalitas budaya, melainkan sebuah simbol penghormatan, penerimaan, dan pengakuan persaudaraan. Saya melihat bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai penghormatan terhadap tamu, kebersamaan, dan solidaritas tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Idul Adha dan Tenun Solidaritas Kemanusiaan di Flores
Pengalaman diterima secara adat menghadirkan kesan spiritual yang mendalam bagi saya. Saya merasakan bahwa kehadiran saya sungguh dinantikan dan diterima dengan tulus oleh umat. Dalam kesederhanaan masyarakat stasi, saya menemukan kehangatan yang sering kali sulit ditemukan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis. Pengalaman tersebut menjadi pengalaman berahmat dalam perjalanan panggilan saya sebagai pelayan Gereja. Saya menyadari bahwa pelayanan pastoral bukan sekadar menjalankan tugas liturgis, melainkan membangun relasi kemanusiaan yang dilandasi kasih, penghormatan, dan persaudaraan.
Stasi Golo Wunis sendiri berada di wilayah pegunungan yang memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Suasana sejuk dan tenang memberikan kesan bahwa masyarakat hidup dalam kedekatan yang kuat dengan alam. Kehidupan masyarakat yang sederhana justru memperlihatkan kekayaan nilai-nilai sosial dan religius yang masih terpelihara dengan baik. Di tempat seperti inilah Gereja hidup dan bertumbuh melalui iman umat yang sederhana tetapi mendalam.
Perayaan Ekaristi Hari Raya Pentakosta dimulai pada Minggu pagi pukul sembilan dan dihadiri hampir seluruh umat dari Stasi Golo Wunis dan Watu Paci. Sejak pagi umat sudah berkumpul di gereja dengan penuh sukacita. Kehadiran umat yang begitu banyak menunjukkan semangat iman dan rasa memiliki terhadap Gereja. Perayaan berlangsung dengan sangat khidmat dan meriah. Seluruh umat mengikuti liturgi dengan penuh perhatian dan keterlibatan yang aktif.
Baca juga: Di Tengah Krisis Zaman, Paul Tukan Berani Tinggalkan Kenyamanan Demi Tuhan”
Salah satu hal yang sangat menarik dalam perayaan tersebut adalah keterlibatan budaya lokal dalam liturgi. Beberapa lagu dinyanyikan dalam bahasa daerah Manggarai dan diiringi dengan tarian yang indah. Dalam pengalaman itu saya melihat bahwa iman Kristiani tidak bertentangan dengan budaya lokal. Sebaliknya, iman justru menemukan bentuk pengungkapannya yang lebih hidup melalui budaya masyarakat. Liturgi menjadi ruang perjumpaan antara Injil dan budaya. Nilai-nilai budaya lokal yang baik tidak dihapus, tetapi diterangi dan diperkaya oleh iman Kristiani.
