PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Perayaan Idul Adha selalu menghadirkan pesan yang melampaui sekadar ritual keagamaan. Di balik gema takbir dan prosesi penyembelihan hewan kurban, tersimpan nilai universal tentang pengorbanan, kepedulian, dan solidaritas antarmanusia. Nilai-nilai itu terasa sangat hidup di Flores, sebuah pulau di Timur Indonesia yang dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekuatan persaudaraan lintas iman yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Flores memang sering dipandang sebagai wilayah dengan mayoritas Katolik yang kuat. Namun, di banyak kota dan kampung, masyarakat Muslim hidup berdampingan secara harmonis bersama umat Katolik, Kristen Protestan, Hindu, maupun kelompok kepercayaan lainnya. Kehidupan sosial masyarakat Flores tidak dibangun di atas tembok identitas, melainkan di atas kesadaran bahwa manusia membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup. Karena itu, Idul Adha di Flores bukan hanya dirayakan oleh umat Muslim sebagai peristiwa religius, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk memperlihatkan wajah kemanusiaan yang inklusif.
Dalam beberapa tahun terakhir, Flores menghadapi banyak tantangan sosial yang tidak ringan. Dampak perubahan iklim membuat sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih saat musim kemarau panjang. Harga kebutuhan pokok terus meningkat. Banyak keluarga petani kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena hasil panen tidak menentu. Di beberapa daerah, akses pendidikan dan layanan kesehatan masih terbatas. Namun, di tengah keterbatasan itu, masyarakat Flores tetap mempertahankan satu hal yang paling berharga: budaya solidaritas.
Hal itu terlihat jelas dalam berbagai momentum keagamaan, termasuk Idul Adha. Di kota seperti Maumere, misalnya, distribusi daging kurban sering kali tidak hanya diperuntukkan bagi umat Muslim, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat sekitar tanpa melihat agama. Banyak keluarga Katolik menerima daging kurban sebagai bagian dari relasi sosial yang hangat antartetangga. Sebaliknya, saat Natal atau Paskah tiba, umat Muslim juga ikut hadir membantu menjaga keamanan gereja, parkir kendaraan, hingga terlibat dalam kerja bakti persiapan perayaan.
Pola hubungan seperti ini bukan sesuatu yang dibuat-buat untuk kebutuhan seremonial toleransi. Ia tumbuh secara alami dari kehidupan masyarakat Flores yang terbiasa hidup dalam keberagaman. Di banyak kampung, rumah ibadah berdiri berdekatan tanpa ketegangan. Anak-anak tumbuh bermain bersama tanpa mempersoalkan identitas agama. Bahkan dalam banyak keluarga besar, perbedaan keyakinan bukan lagi hal yang asing.
Salah satu contoh nyata dapat ditemukan di wilayah Ende. Kota yang dikenal sebagai tempat perenungan Soekarno tentang Pancasila itu memiliki sejarah panjang kehidupan lintas iman yang harmonis. Ketika Idul Adha berlangsung, banyak pemuda Katolik ikut membantu proses penyembelihan hewan kurban atau distribusi bantuan kepada warga miskin. Sebaliknya, umat Muslim juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial lintas agama. Solidaritas seperti ini menjadi bukti bahwa Pancasila di Flores bukan hanya slogan yang dihafal, tetapi nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Jembatan Lapuk Telan Nyawa Turis Austria di Cunca Wulang, Pariwisata Super Premium Dipertanyakan
Di Flores Timur, semangat persaudaraan lintas iman juga terlihat saat bencana alam melanda. Ketika badai siklon tropis Seroja menghantam sejumlah wilayah pada tahun 2021, masyarakat tidak lagi berbicara tentang siapa Muslim dan siapa Katolik. Semua orang bergerak membantu korban. Masjid, gereja, sekolah, dan rumah warga berubah menjadi tempat pengungsian bersama. Bantuan datang dari berbagai komunitas tanpa mempersoalkan identitas penerimanya. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa di tengah penderitaan, manusia sesungguhnya dipersatukan oleh rasa kemanusiaan.
