Mei || Antologi Puisi Martin Meli ||

“Mei bukan sekadar nama bulan, melainkan waktu penuh permenungan. Saat jiwa kembali mencari terang, dan menemukan Tuhan dalam kasih yang tenang. Mei bukan sekadar nama bulan, melainkan waktu penuh permenungan. Saat jiwa kembali mencari terang, dan menemukan Tuhan dalam kasih yang tenang.”
Martin Meli, Penulis. Berasal dari Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Saat ini ia adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero yang menekuni studi Teologi. Ia memiliki minat pada dunia pendidikan, refleksi iman dan pengabdian kepada masyarakat.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Sahabat Perspektif Nusantara yang budiman. Setiap kesempatan selalu menjadi momentum berharga bagi setiap orang yang menghayatinya dengan baik. Penghayatan yang baik selalu melahirkan sesuatu yang baik atau (setidaknya) memberi makna atasnya. 

Puisi berikut merupakan buah penghayatan penulis ketika memasuki bulan Mei, yang seturut tradisi orang Katolik merupakan bulan Maria, bulan yang dipenuhi dengan upacara dan doa oleh orang-orang katolik baik secara pribadi maupun bersama. selamat membaca. 

MEI

Baca juga: Antologi Puisi 1 || Erwin Pitang ||

Mei hadir bersama harum bunga,

Menghias pagi dengan damai yang nyata.

Langit teduh seakan bernyanyi,

Baca juga: Pelabuhan Terakhir, Kumpulan Puisi Arnold Bewat

Menyambut bulan penuh kasih suci.

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru