*****
Saat itu aku pernah berjanji kepadanya. Setelah menyelesaikan kuliah, aku akan mencari pekerjaan di luar daerah. Aku ingin bekerja keras, menabung, membantu keluargaku, lalu kembali kepadanya. Aku ingin suatu hari datang ke rumahnya bukan sebagai seseorang yang hanya membawa cerita, tetapi sebagai lelaki yang benar-benar siap membangun rumah tangga.
Bi mempercayai janji itu. Dan mungkin, di situlah kesalahanku dimulai. Aku membuatnya menunggu sesuatu yang bahkan waktu itu belum benar-benar kupahami. Setelah lulus kuliah, kehidupan ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Aku mendapatkan pekerjaan. Namun bukan pekerjaan yang membuatku langsung bisa menabung banyak. Orang tuaku sudah semakin tua. Aku mempunyai dua adik yang masih membutuhkan biaya sekolah.
Ayah dan ibuku tidak lagi mampu menanggung semuanya. Setiap bulan, penghasilanku harus dibagi. Untuk kebutuhan rumah. Untuk biaya sekolah adik. Untuk kebutuhan orang tua. Barulah sisanya untuk diriku sendiri. Aku tidak mengeluh. Bagiku, itu tanggung jawab. Tetapi semakin lama, aku mulai sadar bahwa tanggung jawab itu membuat rencana yang pernah kubuat bersama Bi semakin jauh. Sementara Bi juga menjalani kehidupannya sendiri. Ia seorang sarjana ekonomi yang kemudian bekerja di sebuah bank. Pekerjaannya membuatnya sibuk, tetapi ia tetap berusaha menyediakan waktu untukku.
****
Pada awalnya kami masih sering bercerita. Kemudian perlahan semuanya berubah. Percakapan yang dulu berlangsung berjam-jam berubah menjadi beberapa menit. Tawa semakin jarang. Telepon semakin singkat. Dan rindu yang dahulu terasa indah mulai berubah menjadi pertanyaan.
“Ga, mau sampai kapan aku menunggumu?”