“Aku tidak bisa menyalahkanmu.”
“Kenapa kamu selalu mengatakan seperti itu?”
“Karena aku memang tidak punya hak untuk menyalahkanmu.”
“Kalau begitu perjuangkan aku.”
Aku terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar ingin mengatakan iya. Aku ingin berkata bahwa aku akan meninggalkan semuanya. Aku ingin membawa Bi pergi. Aku ingin membuktikan bahwa cinta kami lebih kuat daripada perbedaan ekonomi. Tetapi wajah kedua adikku tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Aku teringat uang sekolah yang harus kubayar. Aku teringat kedua orang tuaku. Aku teringat rumah sederhana tempat aku dibesarkan. Aku tidak bisa meninggalkan semuanya.
“Aku belum bisa, Bi.”
Matanya berkaca-kaca.