PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Sahabat PeNa (PerspektifNusantara) yang budiman. Barangkali, ada cinta yang lebih besar dari cinta orangtua kepada anaknya, ataupun cinta seorang gadis kepada pacarnya. Tidak berlebihan kalau kita sebut cinta itu adalah cinta seorang nenek kepada cucunya. Relasi antara Nenek dan cucu pun terbilang cukup harmonis. Cerpen berikut adalah satu gambaran kecil bagaimana relasi itu berwujud.
Selamat Membaca !
Baca juga: Pak Tentara
Nenek paling marah kalau gayung itu jatuh. Aku masih ingat suatu pagi ketika usiaku sekitar sembilan tahun. Saat itu, aku sedang mengambil air dari bak penampungan untuk mandi. Tanganku yang masih kecil kesulitan mengangkat gayung yang penuh air. Ketika hendak memindahkannya, gayung itu terlepas, jatuh ke lantai semen, lalu menggelinding sampai ke dekat pintu. Suara benturannya tidak terlalu keras. Namun, cukup untuk membuat Nenek yang sedang membersihkan sayuran di dapur bergegas menghampiri.
“Sudah berapa kali Nenek bilang, hati-hati kalau pegang gayung!” katanya.
Aku menunduk. Kulihat gayung itu, lalu melihat wajah Nenek yang tampak kesal. Aku tidak mengerti mengapa ia begitu marah hanya karena sebuah gayung jatuh. Gayung itu sudah tua, warnanya biru tetapi sebagian permukaannya memutih, gagangnya mulai bengkok, dan bibirnya tidak lagi rata. Bagiku, benda itu tidak lebih dari alat untuk mengambil air.
Baca juga: Dilarang Sleep Call
“Kalau pecah, mau beli pakai uang apa?” lanjutnya. Aku tidak menjawab sambil menatap matanya yang sayu.