Dilarang Sleep Call

“Tidak mungkin aku harus terus menunggu kalau kamu sendiri tidak tahu kapan akan siap.”
Ilustrasi

Aku terdiam. Karena itulah masalahnya. Aku mencintainya. Tetapi aku tidak ingin menjadikan cintaku sebagai alasan untuk menghentikan hidupnya. Keluarga Bi memang berbeda jauh dengan keluargaku. Ayahnya seorang pejabat di daerah. Kehidupan keluarganya cukup berada. Mereka terbiasa dengan kehidupan yang jauh lebih teratur dan mapan. Sedangkan aku tumbuh sebagai anak seorang petani. Aku tidak pernah malu dengan keluargaku. Tetapi aku tahu perbedaan itu ada. Dan semakin dekat Bi dengan Gilbert, semakin jelas perbedaan itu terasa. Gilbert tidak perlu menjelaskan kapan ia siap. Ia memang sudah siap. Ia tidak perlu meminta Bi menunggu. Ia datang bersama keluarganya dan menyampaikan niatnya. Sedangkan aku? Aku masih berkata:  Tunggu aku. Entah sampai kapan.

Suatu hari Bi mengajakku bertemu. Wajahnya tampak lelah.

“Ayah sudah bicara serius,” katanya.

“Tentang Gilbert?”

Ia mengangguk.

“Orang tua Gilbert juga sudah datang.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru