Ia menatapku.
“Tapi kamu juga tidak pernah memintaku tinggal.”
Malam itu kami berpisah tanpa keputusan. Tidak ada kata putus. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kebencian. Hanya dua orang yang masih saling mencintai, tetapi mulai menyadari bahwa cinta tidak selalu cukup untuk menyatukan dua kehidupan. Aku pulang dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Apakah aku sedang mempertahankan cinta? Atau sebenarnya aku sedang kehilangan orang yang kucintai karena terlalu lama meminta dia menunggu?
Sementara itu, Bi berdiri di persimpangan yang sama. Di satu sisi ada aku. Lelaki yang dicintainya, tetapi belum mampu memberikan kepastian. Di sisi lain ada Gilbert. Lelaki yang tidak mampu membuat hatinya berdebar seperti aku, tetapi sudah siap memberikan kehidupan yang pasti. Dan mungkin, itulah ujian terbesar dalam kisah kami. Bukan tentang siapa yang paling mencintai. Bukan pula tentang siapa yang lebih kaya. Melainkan tentang siapa yang sanggup berjalan bersama ketika kehidupan tidak lagi semudah ketika kami pertama kali saling mengenal. Aku mencintai Bi. Bi juga masih mencintaiku. Tetapi untuk pertama kalinya, kami mulai memahami bahwa terkadang dua orang bisa saling mencintai dan tetap tidak tahu bagaimana caranya untuk tetap bersama. Dan sejak hari itu, aku berhenti bertanya kapan Bi akan menungguku. Karena aku mulai takut pada jawabannya.*
