Akhir sambutan, Abdon mengemukanan bahwa sebuah sekolah adalah diibaratkan seperti sebuah tubuh yang mana memiliki kepala, tangan, kaki dan isi tubuh. Keanggotaan ini bermuara pada satu fungsi, harapan dan tujuan yang sama yakni ‘mengerakkan’. Kepala dengan fungsinya mesti menggerakkan agar siswa sebagai isi tubuh memperoleh hak dan kewajibannya sebagai siswa.
Disinilah siswa menemukan jiwanya. Hal yang sama juga terjadi pada kaki, tangan sebagai barisan pendukung lainnya. Pada intinya bahwa dengan dan melalui cara bergerak dan berada yang berbeda, sebuah tujuan yang sama diperjuangkan.
kepala sekolah yang menggantikan bapak Wenslaus Mando ini juga mengungkapkan mimpi untuk Smante Waigete.
Sebagai kepala sekolah yang baru, beliau bertekad bahwa sekolah ini akan berkembang dengan baik. Namun tekad tersebut tidak bisa terwujud apabila dikerjakan atau dijalankan tanpa prinsip dan visi.
Maka pada kesempatan dies natalis dan syukuran pelantikan tersebut beliau meminta kerjasama para guru secara khusus pada sikap dan teladan hidup karena di zaman ini, pengetahuan, ilmu dan kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk mendidik dan memanusiakan peserta didik. Perlu adanya kekuatan moral, spiritual serta kepekaan sosial ekologis.
“Pada zaman ini kecerdasan akademis saja tidak cukup mesti dibarengi dengan moral dan spiritual yang baik”, ujar Abdon Don Weris.
Klik Link Untuk Dapatkan Berita Menarik Lainnya Hanya di PerspektifNusantara.com
