Gengsi Pesta “Sambut Baru” Kalahkan Pendidikan Anak: Komunitas Teater Pelajar SMAN 1 Waigete Maumere Sampaikan Kritik Lewat Drama

Tradisi sambut baru dalam budaya Sikka merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat, tetapi pelaksanaannya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Komunitas Teater Pelajar SMAN 1 Waigete saat mementaskan drama singkat dalam perayaan Dies Natalis ke-14 SMAN 1 Waigete, Selasa, 8 September 2026. Perayaan HUT ke 14 SMANTE berlangsung di Gedung sekolah SMANTE, Jalan Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, MAUMERE – Budaya gengsi yang lebih mengutamakan pesta daripada pendidikan anak menjadi kritik sosial yang diangkat Komunitas Teater Pelajar SMAN 1 Waigete melalui drama singkat yang dipentaskan dalam perayaan Dies Natalis ke-14 SMAN 1 Waigete, Selasa, 8 September 2026.

Perayaan HUT ke 14 SMANTE berlangsung di Gedung sekolah SMANTE, Jalan Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Drama tersebut menyampaikan kritik sosial terhadap fenomena budaya gengsi yang masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Ceritanya dekat dengan realitas keluarga, ketika kebutuhan membayar uang sekolah anak harus berhadapan dengan keinginan menggelar pesta sambut baru secara meriah.

Baca juga: Fokus Pemulihan Pasca-Bencana, Kasatgas Bencana Kab. Sikka Tekankan Skala Prioritas Bantuan

Kisah bermula ketika seorang anak memiliki tunggakan uang sekolah. Di sisi lain, sang ayah justru memprioritaskan persiapan acara sambut baru untuk anaknya yang lain.

Sang ayah merasa pesta harus digelar secara meriah karena khawatir mendapat penilaian buruk dari keluarga jika acara tersebut dibuat sederhana. Salah satu persoalan yang disoroti adalah kewajiban memberikan kuda kepada keluarga dalam rangkaian acara adat tersebut.

Namun, sang ibu memiliki pandangan berbeda. Ia meminta agar uang yang tersedia digunakan terlebih dahulu untuk membayar tunggakan sekolah anak.

Baca juga: Sudah 5 Hari Mengungsi Tanpa Bantuan, Warga Wolomarang Kecewa Dipaksa Pulang oleh Lurah

Perbedaan pandangan itu memicu konflik dalam keluarga. Anak mereka pun mengalami tekanan hingga akhirnya menghubungi pamannya yang berada di Batam untuk menceritakan persoalan yang dihadapinya.

Halaman: 1234567

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru