KETUM GERAK NUSANTARA SERUKAN “PROKLAMASI KEMERDEKAAN JILID 2”, TEGASKAN BUKAN REFORMASI JILID 2

Revitriyoso menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis geoekonomi dan geopolitik yang semakin kompleks. Pergeseran kekuatan ekonomi global dari negara-negara Barat menuju kawasan Timur, khususnya Tiongkok, menurutnya telah menciptakan ketegangan baru yang berpotensi memicu konflik berskala besar.
Revitriyoso Husodo (Tengah), Ketua Umum Gerak Nusantara

PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Jakarta – Ketua Umum Gerak Nusantara, Revitriyoso Husodo, menyerukan pentingnya membangun kembali semangat kedaulatan nasional melalui apa yang ia sebut sebagai “Proklamasi Kemerdekaan Jilid 2”, yakni perjuangan membebaskan Indonesia dari berbagai bentuk penjajahan ekonomi modern yang dilakukan melalui kekuatan modal global dan kepentingan asing.

Dalam wawancara yang dilakukan belum lama ini, Revitriyoso menilai bahwa berbagai pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan nasionalis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tengah melakukan upaya sistematis untuk melemahkan stabilitas ekonomi dan politik Indonesia.

Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut terdiri dari aktor multinasional, lembaga donor internasional, korporasi global, negara-negara tertentu, hingga oligarki nasional yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem ekonomi yang dinilai kurang berpihak kepada kepentingan nasional.

Baca juga: Renungan Minggu, 14 Juni 2026

“Mereka yang terdampak oleh kebijakan-kebijakan strategis pemerintah saat ini beroperasi secara masif namun terselubung. Berbagai narasi dan serangan terhadap program-program strategis pemerintah terus dimainkan untuk menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintahan yang sah,” ujar Revitriyoso.

Ancaman Baru di Tengah Krisis Global

Revitriyoso menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis geoekonomi dan geopolitik yang semakin kompleks. Pergeseran kekuatan ekonomi global dari negara-negara Barat menuju kawasan Timur, khususnya Tiongkok, menurutnya telah menciptakan ketegangan baru yang berpotensi memicu konflik berskala besar.

Baca juga: Setetes Darah, Sejuta Harapan: PMKRI Maumere Gaungkan Gerakan Kemanusiaan pada Hari Donor Darah Sedunia

“Dunia tidak lagi berada dalam tatanan unipolar, tetapi telah memasuki era multipolar. Pergeseran kekuatan ini melahirkan persaingan ekonomi dan politik yang sangat tajam, bahkan memunculkan berbagai konflik yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai gejala menuju Perang Dunia Ketiga,” katanya.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru