Menimbang Program MBG Dalam Kerangka Epistemologi: Antara Keyakinan, kebenaran, dan Justifikasi Di Era Prabowo Subianto Gibran Rakabuming Raka

Program dipertahankan bukan karena terbukti benar, tetapi karena sudah terlanjur dijanjikan. Dan janji politik, seperti yang kita tahu, punya daya tahan aneh yang sering melampaui logika. Masalahnya, keyakinan yang tidak diuji cenderung menjadi dogma. Dalam konteks MBG, dogma ini bisa berupa asumsi bahwa semua anak membutuhkan intervensi yang sama, atau bahwa distribusi bantuan akan berjalan tanpa kebocoran.
Aprianus Gregorian Bahtera, Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Widya Mandira Kupang

Dalam perspektif disposisional, keyakinan terhadap MBG tercermin dalam tindakan pemerintah ya tetap melanjutkan program tersebut. Ini menunjukkan adanya komitmen politik yang cukup kukuh. Tetapi komitmen saja tidak menjamin efektivitas, karena tindakan bisa saja didorong oleh kepentingan elektoral atau tekanan publik. Dalam konteks ini, keyakinan bisa berubah menjadi alat legitimasi, bukan pencarian kebenaran.

Dan ketika keyakinan digunakan untuk membenarkan kebijakan tanpa kritik, kita sedang menyaksikan epistemologi yang dipelintir. Pandangan state-object juga relevan di sini, karena keyakinan pemerintah terhadap MBG mencerminkan relasi antara subjek ( pemerintah) dan objek ( program). Relasi ini idealnya bersifat rasional dan berbasis bukti, bukan sekadar emosional atau ideologis. Namun, dalam praktik politik, relasi ini sering kali bias oleh kepentingan kekuasaan.

Program dipertahankan bukan karena terbukti benar, tetapi karena sudah terlanjur dijanjikan. Dan janji politik, seperti yang kita tahu, punya daya tahan aneh yang sering melampaui logika. Masalahnya, keyakinan yang tidak diuji cenderung menjadi dogma. Dalam konteks MBG, dogma ini bisa berupa asumsi bahwa semua anak membutuhkan intervensi yang sama, atau bahwa distribusi bantuan akan berjalan tanpa kebocoran.

Padahal, pengalaman kebijakan sebelumnya menunjukkan bahwa implementasi di lapangan sering kali jauh dari ideal. Jika keyakinan tidak disertai evaluasi Kritis, maka ia justru menjadi penghalang bagi pengetahuan. Dan itu bukan kabar baik untuk kebijakan publik.

Untuk itu, keyakinan dalam program MBG harus ditempatkan sebagai titik awal, bukan titik akhir. Ia perlu diuji, dikritisi, dan direvisi sesuai dengan temuan empiris.Tanpa itu, progam ini hanya akan menjadi narasi yang indah di atas kertas. Dan masyarakat seperti biasanya, yang akan menanggung konsekuennya.

Kebenaran Dan Justifikasi: Antara Data Dan Realitas Lapangan 

Kebenaran dalam konteks MBG menuntut kesesuaian antara klaim program dan hasil nyata dilapangan. Jika pemerintah menyatakan bahwa MBG meningkatkan status gizi, maka harus ada data yang menunjukkan penurunan angka stunting atau malnutrisi. Kini, banyak berita yang beredar tentang dampak bagi masyarakat dari pembagian MBG, terkhusus dugaan ada keracunan dalam MBG itu. Sehingga di berbagai berita baik berupa video dan tulisan di media-media, menampilkan masyarakat yang masuk rumah sakit, akibat telah makan MBG.

Halaman: 123

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru