Nilai itulah yang sejalan dengan makna terdalam Idul Adha. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang kesediaan manusia mengorbankan egoisme demi kehidupan bersama. Dalam konteks Flores hari ini, semangat kurban menjadi sangat relevan ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang semakin kompleks.
Di banyak desa di Flores, masih ada keluarga yang kesulitan mendapatkan makanan bergizi setiap hari. Tidak sedikit anak yang harus berjalan jauh menuju sekolah dengan fasilitas terbatas. Banyak orang tua merantau demi membiayai pendidikan anak-anak mereka. Dalam situasi seperti ini, solidaritas sosial bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan bersama.
Karena itu, pembagian daging kurban di Flores sering kali memiliki makna emosional yang mendalam. Bagi sebagian keluarga miskin, momen Idul Adha menjadi kesempatan langka untuk menikmati makanan bergizi bersama keluarga. Namun yang lebih penting dari itu adalah rasa diperhatikan dan diingat sebagai bagian dari komunitas sosial.
Di sejumlah kampung pesisir Flores, tradisi berbagi bahkan dilakukan tanpa menunggu hari raya tertentu. Nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan sering membagikan sebagian ikan kepada tetangga. Petani yang panennya cukup membantu keluarga lain yang kekurangan. Budaya seperti ini memperlihatkan bahwa masyarakat Flores memiliki filosofi hidup kolektif yang kuat: hidup manusia hanya akan bertahan jika dijalani bersama-sama.
Semangat gotong royong itu sebenarnya menjadi kekayaan sosial yang sangat penting di tengah arus individualisme modern. Hari ini, dunia sedang bergerak menuju kehidupan yang semakin kompetitif. Banyak orang mulai mengukur relasi sosial berdasarkan keuntungan pribadi. Media sosial bahkan sering memperlihatkan pertengkaran identitas yang memecah masyarakat. Namun Flores menghadirkan wajah yang berbeda. Di tengah keterbatasan ekonomi, masyarakatnya justru memperlihatkan kemampuan menjaga hubungan sosial secara hangat dan manusiawi.
Tentu saja bukan berarti Flores bebas dari persoalan intoleransi atau konflik sosial. Tantangan tetap ada. Pengaruh politik identitas dan informasi provokatif dari luar bisa saja masuk kapan saja. Karena itu, nilai solidaritas lintas iman harus terus dirawat, terutama oleh generasi muda.
Momentum Idul Adha seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali kesadaran tersebut. Kurban perlu diterjemahkan lebih luas sebagai keberanian berbagi ruang hidup dengan orang lain. Pengorbanan tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga kesediaan mendengarkan, menghormati, dan menjaga satu sama lain di tengah perbedaan.
