Desa Global terbentuk melalui peran media elektronik yang menyatukan dunia dalam keterhubungan seketika. Orang Indonesia dapat mengetahui apa yang dimakan atau dikenakan oleh orang Amerika, begitu pula sebaliknya. Namun, keterhubungan ini tidak sepenuhnya menghasilkan dampak positif. Perbedaan justru tampak semakin tajam, dialog rasional makin sulit terjadi, dan emosi menjadi penguasa utama. Polarisasi yang kita alami hari ini merupakan dampak langsung dari bentuk media tersebut.
Memahami Efek Media, Bukan Hanya Isinya
Melalui pandangan Marshall McLuhan, kita dapat melihat bahwa kekacauan informasi, polarisasi, dan dominasi berita yang tidak lengkap bukan hanya persoalan isi semata. Masalah mendasarnya terletak pada bentuk media yang digunakan serta cara media itu mengubah proses produksi, penyebaran, dan pemahaman informasi.
Jika kita hanya fokus pada isi pesan dan terus mengimbau masyarakat agar lebih teliti, persoalan ini tidak akan selesai. Kita perlu menyadari bahwa media itu sendiri adalah pesan yang sesungguhnya. Media sosial telah mengubah lingkungan informasi sedemikian rupa sehingga kesederhanaan dan kecepatan lebih unggul dibanding kedalaman dan kebenaran.
Memperbaiki situasi ini menuntut pemahaman yang lebih mendalam. Kita harus mulai menata kembali cara kerja media atau mengubah cara kita berinteraksi dengannya. Tanpa kesadaran tersebut, kita akan terus mengeluhkan isi berita, tetapi tidak pernah menyadari bahwa alat komunikasi yang kita pegang setiap hari itulah yang sebenarnya mengatur cara kita berpikir dan memandang dunia.
