Ketika Luka Tidak Memiliki Suara: Keheningan Sosial di Balik Fenomena Bunuh Diri di Kabupaten Sikka

Tugas kita, sebagai sesama manusia, anggota masyarakat, tetangga, dan keluarga, adalah memastikan bahwa tidak ada satu pun pintu yang benar-benar terkunci. Bahwa selalu ada satu suara yang tersisa: suara yang berkata, “Aku di sini, aku mendengar, dan lukamu layak untuk didengar.
Mepi Galusius Roli Lele, Mahasiswa Semester VI, Prodi Filsafat, IFTK Ledalero

Inilah yang disebut Noelle-Neumann sebagai spiral keheningan: pusaran sunyi yang semakin dalam ketika seseorang merasa dirinya berbeda atau tidak diterima. Pada titik tertentu, keheningan tidak lagi sekadar pilihan—ia menjelma menjadi penjara. Dan manusia yang terkurung dalam penjara tanpa tembok itu akhirnya berhenti percaya bahwa masih ada jalan keluar.

Topeng Sosial dan Ironi Kehadiran yang Tidak Hadir

Erving Goffman, sosiolog besar abad ke-20, pernah menganalogikan kehidupan sosial sebagai panggung drama, tempat setiap individu mengelola kesan yang ditampilkan kepada publik. Dalam konteks inilah kita dapat memahami mengapa begitu banyak orang yang tengah terluka memilih hadir di tengah masyarakat dengan senyum, tawa, dan aktivitas sosial yang tampak normal. Mereka hadir secara fisik, tetapi sesungguhnya hidup dalam pengasingan paling paradoksal: kesepian di tengah keramaian.

Ironi paling pahit justru terungkap setelah tragedi terjadi. Ketika seseorang meninggal karena bunuh diri, masyarakat tiba-tiba ramai bersuara. Namun, nada suara itu sebagian besar bukanlah pertanyaan empatik tentang di mana kita telah gagal sebagai komunitas, melainkan vonis yang dilontarkan dengan cepat—tentang kurangnya iman, lemahnya mental, atau kegagalan pribadi menghadapi cobaan hidup. Tanpa disadari, komentar-komentar itu sedang menjawab pertanyaan mengapa seseorang memilih diam sejak awal.

Media, Layar Kaca, dan Konstruksi Keheningan Baru

Media massa dan media sosial tidak berada dalam posisi netral di hadapan fenomena ini. Dalam banyak pemberitaan, kematian akibat bunuh diri lebih sering dihadirkan sebagai spektakel tragis daripada pintu masuk untuk mendiskusikan akar persoalan yang lebih dalam. Kronologi kematian mendapat sorotan lebih terang dibanding perjalanan batin yang mendahuluinya. Akibatnya, publik dikondisikan untuk membicarakan peristiwa, bukan memahami manusia.

Media sosial pun menambah lapisan tekanan yang tidak kalah besar. Ia telah membangun sebuah panoptikon digital—meminjam istilah filsuf Michel Foucault—di mana setiap individu merasa selalu diamati, selalu dinilai, dan karena itu selalu terdorong menampilkan versi dirinya yang paling sempurna.

Ketika kegagalan dan kesedihan dianggap tidak layak ditampilkan di beranda digital, kejujuran tentang kondisi batin menjadi kemewahan yang tidak semua orang mampu tanggung risikonya.

Mendengar sebagai Tindakan Etis

Dalam tradisi filsafat Timur maupun Barat, mendengarkan bukan sekadar aktivitas indrawi-ia merupakan tindakan etis yang paling fundamental. Emmanuel Levinas mengajarkan bahwa perjumpaan sejati dengan manusia lain mensyaratkan kesediaan menerima wajah sang Liyan, termasuk wajah yang retak, penuh luka, dan tidak sesuai dengan ekspektasi sosial kita. Menolak mendengar, dalam perspektif ini, merupakan bentuk kekerasan paling sunyi sekaligus paling mematikan.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru