Ketika Luka Tidak Memiliki Suara: Keheningan Sosial di Balik Fenomena Bunuh Diri di Kabupaten Sikka

Tugas kita, sebagai sesama manusia, anggota masyarakat, tetangga, dan keluarga, adalah memastikan bahwa tidak ada satu pun pintu yang benar-benar terkunci. Bahwa selalu ada satu suara yang tersisa: suara yang berkata, “Aku di sini, aku mendengar, dan lukamu layak untuk didengar.
Mepi Galusius Roli Lele, Mahasiswa Semester VI, Prodi Filsafat, IFTK Ledalero

Dan ketika seluruh jalan tampak buntu, ketika setiap pintu terasa terkunci dari luar, ketika bahkan keheningan pun terasa seperti tembok—di sanalah tragedi menjadi hampir tak terelakkan.

Tugas kita, sebagai sesama manusia, anggota masyarakat, tetangga, dan keluarga, adalah memastikan bahwa tidak ada satu pun pintu yang benar-benar terkunci. Bahwa selalu ada satu suara yang tersisa: suara yang berkata, “Aku di sini, aku mendengar, dan lukamu layak untuk didengar.”

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Ikut kami:

Terpopuler