Pada titik inilah kehadiran Pemerintah daerah di Pulau Flores yang terdiri dari 8 Kabupaten diharapkan memberikan solusi terbaik. Sebagai Policy Making para pimpinan daerah harus melihat wisata religius ini dengan kacamata potensi pariwisata religius-spiritual-rohani sebagai peluang untuk peningkatan ekonomi secara kolektif.
Sebelum menjadi bagian dari Negara Indonesia, jika dilihat ke belakang Nusa Nipa merupakan daerah jajahan kolonial Portugis. Setelah menaklukkan Malaka pada 1511, Portugis bergerak ke wilayah timur Nusantara untuk menguasai jalur rempah. Dalam arus dagang dan pelayaran itu, para misionaris Katolik turut serta dalam misi evangelisasi sekitar tahun 1561, yang di pimpin oleh P. Antonio da Cruz dari ordo Dominikan.
Pada tahun 1562, para misionaris Dominikan memulai pembangunan biara dan benteng mereka di Lohayong Pulau Solor. Pemilihan lokasi pembangunan terletak di sebuah bukit terjal, yang menghadap ke Pantai dengan eksotisme yang sangat indah. Misi penginjilan kemudian berlanjut, dengan memulai ekspansi ke pulau Flores, Ende, Adonara, dan Lembata, serta terus membangun rumah-rumah ibadat hingga tahun 1599.
Setelah penandatanganan perjanjian Lisbon tahun 1859 antara Portugis dan Belanda, maka berakhirlah misi ordo Dominikan di Flores, selanjutnya di bawah kekuasaan Belanda, diberikan kesempatan kepada Serikat Jesus (Jesuit) untuk menjalankan misi di Flores (1860 – 1913). Misi evangelisasi di Nusa Bunga akhirnya dilanjutkan oleh Serikat Sabda Allah (SVD), yang didirikan oleh Arnoldus Janssen.
Hingga saat ini pengaruh misi SVD berkembang sangat pesat, dengan didirikan Paroki, Sekolah, dan salah satu karya misi SVD yang paling nyata dan menjadi identitas dari eksistensi Ordo ini adalah berdirinya IFTK Ledalero, sebuah Sekolah Tinggi lintas negara, tempat lahirnya para pemikir filsafat yang mahasiswa nya bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi dari penjuru dunia manapun, yang datang untuk menimba ilmu di Flores, lalu setelahnya berkarya untuk melayani umat, baik di Flores sendiri, maupun di banyak wilayah di luar negeri.
Hingga saat ini SVD dan Imam Diosesan (Projo) bersama-sama bergendengan tangan dalam pewartaan di bawah kepemimpinan Uskup Setempat.
Seiring berjalannya waktu, ajaran Katolik tidak hanya diterima sebagai sistem kepercayaan baru, tetapi bertransformasi menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat.
