Dalam peta itu, Flores sesungguhnya memiliki peluang yang tak kalah strategis untuk menjadi pusat wisata Katolik terbesar di Indonesia Timur. Dengan sejarah panjang inkulturasi iman katolik, budaya lokal, dan alam yang hidup berbuah pada kohesi sosial berbasis gereja yang kuat, Flores memiliki identitas spiritual yang otentik.
Jika dikelola dengan visi kebijakan yang tepat, diferensiasi ini bukan sekadar label religius, melainkan fondasi narasi besar yang mampu memperkuat posisi Flores sebagai destinasi yang menjadi incaran para wisatawan bukan hanya keindahan, tetapi juga kedalaman makna.
Sebagai tawaran strategis, penulis mencoba meramu gagasan “Flores Spiritual Corridor” sebagai jalur wisata religius terintegrasi yang menghubungkan titik-titik penting sejarah dan kehidupan iman di Flores mulai dari Ruteng, Ende, Maumere, hingga Larantuka sebagai destinasi utama tradisi Semana Santa.
Koridor ini bukan sekadar rute perjalanan geografis, melainkan perjalanan makna yang merangkai situs-situs gerejawi, seminari, pusat ziarah, serta ruang-ruang budaya yang mencerminkan inkulturasi iman Katolik dalam kehidupan masyarakat.
Dengan pendekatan ini, wisatawan tidak hanya berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain, melainkan diajak memahami narasi sejarah, spiritualitas, dan identitas Flores secara utuh.
Pengembangan wisata religius di Flores harus dimulai dari keberanian menjadikannya arus utama kebijakan, bukan sekadar pelengkap narasi pariwisata alam. Integrasi kalender Semana Santa ke dalam promosi nasional bukan semata soal publikasi event, melainkan pengakuan bahwa perayaan iman memiliki daya tarik spiritual dan kultural yang bernilai strategis.
Penguatan narasi sejarah iman melalui dokumentasi, pusat informasi, dan pemandu yang memahami konteks historis akan memastikan bahwa setiap peziarah tidak hanya hadir sebagai wisatawan, tetapi sebagai pencari makna.
