Hingga hari ini, mayoritas penduduk Flores memeluk agama Katolik, menjadikannya salah satu kantong Katolik terbesar di Indonesia. Jejak Sejarah yang panjang tersebut menjadikan Nusa Bunga hari ini yang identik dengan banyaknya Gereja tua, taman doa, dan tempat ziarah Rohani yang tersebar hampir di setiap wilayah Pulau Flores.
Bangunan-bangunan Gereja yang berdiri kokoh, tidak sekadar difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, solidritas sosial, dan pembentukan karakter masyarakat. Dalam beberapa wilayah, Gereja berdiri berdampingan dengan rumah adat, mencerminkan perpaduan antara iman dan tradisi lokal yang tumbuh secara organik selama berabad-abad.
Salah satu manifestasi paling kuat dari warisan sejarah tersebut adalah tradisi Semana Santa di Larantuka. Perayaan Pekan Suci ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan paling khidmat di Indonesia.
Ribuan peziarah datang setiap tahun untuk mengikuti prosesi yang sarat makna spiritual dan historis. Tradisi ini bukan sekadar agenda liturgi tahunan, melainkan ekspresi iman kolektif yang diwariskan turun-temurun sejak masa Portugis.
Di pusat perayaan itu hidup pula devosi kepada Tuan Ma sebutan lokal untuk Bunda Maria yang memiliki kedudukan istimewa dalam spiritualitas umat Katolik, khususnya bagi masyarakat Larantuka.
Patung Tuan Ma tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga lambang identitas kultural yang menyatukan komunitas. Relasi antara iman Katolik dan kehidupan sosial tampak begitu menyatu, sehingga sulit memisahkan dimensi religius dari keseharian masyarakat Flores.
Karena itu, penyebutan Flores sebagai “Roma kecil” di Timur Indonesia bukanlah sekadar metafora puitis. Ia menggambarkan realitas sosial-budaya yang nyata sebuah pulau di mana iman membentuk tata nilai, solidaritas, pendidikan, hingga cara pandang terhadap alam dan kehidupan.
