PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Di tengah kemajuan dunia digital, arus informasi mengalir dengan sangat cepat melalui media sosial. Mahasiswa sebagai digital native sering menjadi kelompok yang paling banyak mengakses informasi, baik yang valid maupun tidak valid. Dalam hal ini, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar keunggulan, melainkan kebutuhan utama. Penggunaan media sosial yang intens dapat berdampak terhadap kemampuan berpikir mahasiswa dalam menganalisis setiap informasi yang ada. Hasil OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) melalui PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan mengevaluasi informasi digital masih menjadi salah satu tantangan bagi banyak pelajar. UNESCO juga melaporkan bahwa sebagian besar pembuatan konten digital tidak melakukan pengecekan fakta secara mendalam sebelum membagikan informasinya. Penelitian ini menunjukkan pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi banjir informasi di era digital. Selain itu, perkembangan teknologi digital menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, mahasiswa dapat dengan mudah mengakses berbagai macam informasi, jurnal ilmiah , dan bahan pembelajaran lainnya hanya dalam kurun waktu satu detik. Kemudahan ini dapat dengan mudah memperluas wawasan serta membantu mahasiswa dalam membandingkan sudut pandang yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan akhir. Namun, di sisi lain, kemudahan untuk mengakses informasi ini justru menjadi sebuah ketergantungan bagi penggunanya. Sebagian besar mahasiswa cenderung menerima informasi secara instan tanpa melakukan analisis yang mendalam. Penggunaan media sosial dan teknologi digital seperti kecerdasan buatan (AI), seperti menyalin jawaban tanpa mengecek sumbernya dan kurangnya analisis karena mereka bergantung pada AI, dapat mengurangi kemampuan kritis mahasiswa. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa yang tidak dapat memverifikasi berita atau informasi secara mendalam. Akibatnya, mereka terjebak dalam misinformasi, hoaks, dan informasi yang tidak memiliki bukti nyata atau dasar ilmiah. Oleh karena itu, kemampuan literasi digital menjadi faktor yang paling penting dalam menghadapi era informasi melalui teknologi digital. Sebagai generasi yang hidup dalam arus perkembangan teknologi digital, mahasiswa perlu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk belajar dan mengembangkan kemampuan kritis mereka. Menurut penulis, teknologi digital telah memberikan pengaruh besar terhadap pola pikir kritis mahasiswa. Munculnya teknologi digital dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis apabila digunakan secara bijak dan penuh tanggung jawab. Namun, jika sebaliknya, maka teknologi digital justru akan membuat mahasiswa lebih cepat terpengaruh oleh informasi yang tidak valid. Sehingga, sebagai mahasiswa, harus mampu menggunakan teknologi digital secara bijaksana agar digitalisasi menjadi alat yang mendukung perkembangan pola kritis mahasiswa. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis tidak ditentukan oleh teknologi digital, melainkan oleh bagaimana pengguna menggunakannya dengan bijak, reflektif dan penuh tanggung jawab.
Klik link ini untuk mendapatkan informasi terbaru hanya di PerspektifNusantara.com.