PERSPEKTIFNUSANTARA.COM– Di era kecerdasan buatan dan internet super cepat, siswa kini bisa menyelesaikan pekerjaan rumah hanya dalam hitungan detik. Cukup mengetik pertanyaan di mesin pencari atau meminta bantuan AI, jawaban langsung tersedia. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah pekerjaan rumah (PR) masih benar-benar membantu siswa belajar, atau hanya menjadi formalitas pendidikan yang dipertahankan sekolah?
Pada dasarnya, PR memiliki tujuan yang baik. Tugas rumah diberikan agar siswa dapat mengulang materi pelajaran, melatih tanggung jawab, serta membangun kemandirian belajar. Penelitian Torberg Falch dan Marte Rønning (2012) menunjukkan bahwa PR tetap memberi pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa, meski dampaknya tidak terlalu besar. Artinya, PR masih dapat membantu proses pembelajaran apabila diberikan secara tepat dan sesuai kebutuhan siswa.
Namun, perkembangan teknologi membuat efektivitas PR mulai dipertanyakan. Banyak siswa kini lebih memilih mencari jawaban instan dibanding memahami proses belajar itu sendiri. Fenomena ini terlihat jelas ketika siswa cukup menyalin jawaban dari internet atau meminta AI menyelesaikan soal dalam beberapa detik. Bahkan, di media sosial sering muncul video siswa yang memperlihatkan bagaimana tugas sekolah dapat diselesaikan hanya dengan memotret soal lalu meminta AI memberikan jawaban lengkap. Akibatnya, sebagian siswa mengerjakan PR hanya demi mengumpulkan tugas, bukan untuk memahami materi pelajaran.
Baca juga: Deep Learning dan Masa Depan Pendidikan: Antara Revolusi Digital dan Tantangan Kemanusiaan
Selain itu, jumlah PR yang terlalu banyak juga sering menjadi beban bagi siswa. Setelah belajar seharian di sekolah, mereka masih harus menyelesaikan berbagai tugas di rumah. OECD melalui laporan PISA menjelaskan bahwa tambahan waktu belajar tidak selalu meningkatkan prestasi secara signifikan. Bahkan, setelah sekitar empat jam PR per minggu, tambahan tugas hanya memberi pengaruh kecil terhadap hasil akademik siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tugas jauh lebih penting dibanding jumlahnya.
Di sisi lain, teknologi sebenarnya dapat membuat PR menjadi lebih menarik dan bermakna. Guru tidak harus selalu memberikan latihan soal yang monoton. PR bisa dikembangkan menjadi proyek sederhana, diskusi daring, observasi lingkungan, atau tugas kreatif seperti membuat video edukasi dan presentasi digital. Contohnya, siswa dapat diminta membuat kampanye singkat tentang bahaya sampah plastik di media sosial atau membuat vlog sederhana tentang kegiatan belajar mereka. Tugas seperti ini tidak hanya membantu memahami materi, tetapi juga melatih kreativitas, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, peran guru sangat penting dalam menentukan keberhasilan PR. Guru perlu memastikan bahwa tugas yang diberikan benar-benar memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. PR seharusnya membantu siswa belajar mandiri, bukan sekadar menambah tekanan akademik. Jika tugas diberikan terlalu banyak tanpa arahan yang jelas, siswa justru dapat kehilangan motivasi belajar dan menganggap pendidikan hanya sebagai kewajiban administratif.
Baca juga: Idul Adha dan Tenun Solidaritas Kemanusiaan di Flores
Pada akhirnya, yang menentukan kualitas PR bukan banyaknya tugas, melainkan makna dibalik tugas tersebut. Di era digital, pendidikan tidak cukup hanya memberi pekerjaan rumah, tetapi juga harus membantu siswa berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Jika tidak dirancang dengan baik, PR hanya akan menjadi formalitas yang kehilangan nilai pendidikannya.