PERSPEKTIFNUSANTARA.COM – Momentum Hari Kartini kembali menjadi ruang refleksi bagi para penulis muda dan pegiat literasi di Nusa Tenggara Timur untuk mengekspresikan gagasan tentang perempuan, kehidupan dan kemanusiaan melalui karya sastra.
Dua penulis asal Flores, yakni Felix Riondi Sugar dan Fransiska Atrince Gamo, menghadirkan kumpulan puisi bertema Kartini yang merefleksikan perjuangan, harapan serta suara perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Felix Riondi Sugar, mahasiswa Institut Filsafat Teknologi Kreatif Ledalero asal Manggarai, telah aktif menulis di berbagai media lokal dan jurnal ilmiah. Ia juga telah menerbitkan dua buku berjudul “Langit Pernah Menulis Kita di Tubuh Senja” (2024) dan “Sapu Tangan Tanya?” (2025).
Sementara itu, Fransiska Atrince Gamo yang berasal dari Maumere, Flores, berprofesi sebagai pustakawati di salah satu sekolah dasar di Kota Maumere juga memiliki kegemaran menulis, khususnya puisi yang kerap merekam pengalaman dan kehidupan sosial di sekitarnya.
Karya puisi keduanya menjadi bagian dari upaya merawat tradisi literasi dan menghadirkan kembali semangat Kartini dalam bentuk yang lebih kontekstual melalui sastra.
Prihal Protes
Nomor: 01
Prihal: Puisi Protes
Baca juga: Teras Ilmu: Rumah Belajar "Menggaris dari Pinggir"
Kepada yang terhormat
Ibu Kartini
di kenangan puluhan tahun yang lalu
