Pekan XXVII Waktu Biasa
Peringatan Opsional: Santa Faustina Kowalska
“Jangan Hanya Bertanya Siapa Sesamaku, Jadilah Sesama”
Dalam Injil hari ini, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus bagaimana memperoleh hidup kekal. Ia menginginkan jawaban yang jelas dan “secara hukum”, bahkan bertanya, “Siapakah sesamaku?” Yesus justru mengarahkannya pada inti hukum: mengasihi Allah dan sesama tidak dapat dipisahkan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 19 September 2026
Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati menunjukkan bahwa kasih tidak boleh dibatasi oleh aturan, kelompok, atau batas-batas agama. Imam dan orang Lewi melihat seorang yang hampir mati, tetapi memilih melewatinya. Mungkin mereka takut menjadi najis atau terikat oleh aturan keagamaan, tetapi sikap itu justru bertentangan dengan kehendak Allah yang menghendaki kehidupan.
Yang berhenti dan menolong justru seorang Samaria, yang dianggap asing, sesat, bahkan dibenci oleh orang Yahudi. Ia tidak banyak bertanya siapa orang yang terluka itu. Ia melihat penderitaannya, tergerak oleh belas kasih, merawat lukanya, membawanya ke penginapan, dan memastikan masa depannya.
Karena itu, pertanyaan Yesus bukan lagi “Siapakah sesamaku?”, melainkan “Apakah aku mau menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan?” Dalam diri orang Samaria itu, para Bapa Gereja bahkan melihat gambaran tentang Allah sendiri: Allah yang datang mendekati manusia yang terluka, menyembuhkan, merawat, dan memberikan harapan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 18 September 2026
Injil mengingatkan kita bahwa agama yang benar adalah agama yang memberi kehidupan. Iman tidak cukup hanya dengan ibadah, aturan, dan pengetahuan tentang Tuhan. Kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Allah secara nyata: mendekati yang terluka, menolong yang membutuhkan, dan membuka jalan bagi mereka untuk memiliki masa depan.