Ketika Bumi Berguncang di Tengah Ekaristi: Sebuah refleksi iman di antara altar, ketakutan, dan bumi yang bergetar

Ada saat ketika manusia kehabisan kata-kata. Ada saat ketika sesuatu yang selama ini kita anggap kokoh; lantai, dinding, altar, bahkan rasa aman tiba-tiba kehilangan kepastiannya. 

Kita berdoa bagi korban, tetapi kita juga harus membantu mereka. Kita memohon kekuatan bagi keluarga yang kehilangan, tetapi kita juga harus hadir di tengah mereka. Kita meminta perlindungan Tuhan, tetapi kita juga harus membangun kehidupan yang lebih siap menghadapi bencana.

Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat orang berdoa ketika bencana datang. Gereja harus menjadi komunitas yang hadir ketika manusia membutuhkan pertolongan. Sebab iman yang sejati tidak melarikan diri dari dunia yang terluka. Iman masuk ke dalam luka itu. Bumi boleh berguncang, tetapi harapan jangan runtuh

Bagi sebagian orang, gempa selesai ketika tanah berhenti bergerak. Tetapi bagi mereka yang kehilangan rumah, keluarga, rasa aman, dan ketenangan, gempa mungkin baru saja dimulai. Karena itu, kita tidak boleh cepat melupakan. Kita perlu berdoa. Kita perlu membantu. Kita perlu membangun kembali. Kita perlu belajar dari alam. Dan kita perlu memperkuat solidaritas.

Pagi itu di Stasi Toka, saya belajar bahwa kehidupan manusia memang rapuh. Kami sedang berdoa, lalu bumi berguncang. Kami harus berhenti. Kami keluar. Kami menunggu. Dan kemudian kami kembali. Bukankah demikian pula kehidupan manusia?

Kita sedang menjalani hidup dengan segala rencana dan keyakinan. Tiba-tiba sesuatu mengguncang kita: kehilangan, penyakit, kegagalan, bencana, atau kematian. Kita terpaksa berhenti. Kita takut. Kita menangis. Tetapi iman mengajarkan kita untuk tidak berhenti selamanya. Ketika guncangan mereda, kita berdiri kembali. Kita menggenggam tangan sesama. Kita membersihkan puing-puing. Kita membangun kembali. Kita kembali ke altar. Dan kita melanjutkan perjalanan. Bukan karena kita tidak takut, tetapi karena kita percaya bahwa ketakutan bukanlah akhir.

Bumi dapat berguncang. Bangunan dapat runtuh. Liturgi dapat terhenti sejenak. Tetapi kasih Allah tidak pernah berhenti bekerja. Dan selama manusia masih mampu menggenggam tangan sesamanya, selama Gereja masih berani hadir di tengah penderitaan, dan selama kita masih mampu berkata, meski dengan suara gemetar, “Tuhan, kami percaya,” maka harapan masih mempunyai tempat untuk berdiri.

Bumi boleh berguncang. Tetapi iman dan harapan tidak boleh ikut runtuh.

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru