Ada saat ketika manusia kehabisan kata-kata. Ada saat ketika sesuatu yang selama ini kita anggap kokoh; lantai, dinding, altar, bahkan rasa aman tiba-tiba kehilangan kepastiannya.
Sabtu pagi itu, 15 Agustus 2026, saya sedang merayakan Ekaristi bersama beberapa umat di Stasi Toka, Praparoki Jawang, Borong, Manggarai Timur. Kami datang untuk melakukan sesuatu yang sangat biasa bagi seorang beriman: berkumpul, mendengarkan Sabda Tuhan, mempersembahkan doa, dan merayakan misteri keselamatan dalam Ekaristi. Namun tiba-tiba bumi berguncang.
Goyangannya sangat kuat dan berlangsung selama beberapa menit. Kapela yang menjadi tempat kami berdoa seakan ikut bergerak. Dalam sekejap, suasana liturgi berubah menjadi kecemasan. Kami menghentikan perayaan dan memutuskan keluar dari kapela demi keselamatan.
Baca juga: PASKIBRAKA Kabupaten Nunukan dikukuhkan, SMAK Frateran St. Gabriel Utus Dua Putera Terbaik
Untuk beberapa saat kami hanya berdiri, menunggu guncangan mereda. Mungkin ada yang berdoa dalam hati. Mungkin ada yang memikirkan keluarga di rumah. Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah guncangan akan kembali.
Kemudian, setelah keadaan mereda, kami kembali ke kapela dan melanjutkan Ekaristi.Tetapi saya merasa bahwa kami tidak lagi melanjutkan Ekaristi dengan cara yang sama. Ada sesuatu yang telah berubah dalam diri kami. Ketika bumi mengingatkan manusia akan kerapuhannya.
Gempa bumi mempunyai bahasa sendiri. Ia tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi dengan getaran. Ia berbicara melalui rumah yang retak, jalan yang terganggu, kepanikan manusia, dan kesadaran mendadak bahwa tanah yang setiap hari kita pijak ternyata tidak selalu diam.
Secara ilmiah, gempa adalah fenomena alam yang berkaitan dengan pergerakan dan pelepasan energi di dalam bumi. Flores berada di wilayah tektonik yang aktif. Karena itu, gempa bukan sesuatu yang perlu kita tafsirkan secara mistis sebagai hukuman Tuhan.