Justru di sinilah iman dan ilmu pengetahuan seharusnya berjalan bersama.
Ilmu pengetahuan membantu kita memahami bagaimana gempa terjadi. Iman membantu kita menjawab pertanyaan bagaimana manusia harus bersikap ketika gempa terjadi.
Kita membutuhkan ilmu untuk membangun rumah yang lebih aman, memahami risiko, melakukan mitigasi, dan menyelamatkan kehidupan. Tetapi kita juga membutuhkan iman untuk tetap manusiawi ketika berhadapan dengan penderitaan. Sebab bagi korban, gempa bukan sekadar angka magnitudo.
Bagi keluarga yang kehilangan orang yang dicintai, gempa adalah luka. Bagi mereka yang rumahnya roboh, gempa adalah kehilangan. Bagi seorang anak yang takut tidur di dalam rumah setelah gempa, gempa adalah ketakutan yang nyata. Karena itu, kita tidak boleh tergesa-gesa mengatakan bahwa bencana adalah hukuman Tuhan.
Yesus sendiri menolak cara berpikir yang sederhana bahwa penderitaan seseorang pasti disebabkan oleh dosa pribadinya. Dalam Lukas 13:1-5, Yesus justru mengajak manusia untuk tidak menghakimi mereka yang menjadi korban tragedi. Orang yang menderita tidak membutuhkan tuduhan. Mereka membutuhkan kehadiran. Mereka membutuhkan pertolongan. Mereka membutuhkan belas kasih. Dan mereka membutuhkan harapan.
Ekaristi yang berhenti, tetapi iman tidak berhenti Ada sebuah paradoks yang terus saya renungkan. Kami sedang merayakan Ekaristi ketika gempa terjadi. Karena keselamatan, kami harus meninggalkan kapela. Secara liturgis, perayaan itu berhenti sejenak. Tetapi apakah Tuhan berhenti hadir? Tidak. Justru pengalaman itu mengingatkan saya bahwa Allah tidak hanya hadir di dalam bangunan gereja. Allah hadir di tengah kehidupan manusia.
Tuhan hadir ketika seorang ibu memeluk anaknya. Tuhan hadir ketika seseorang menggenggam tangan orang lain yang ketakutan. Tuhan hadir ketika kita berlari menyelamatkan kehidupan. Tuhan hadir dalam keheningan setelah guncangan berhenti. Dan Tuhan hadir ketika kita kembali ke altar untuk melanjutkan Ekaristi.