Ketika Bumi Berguncang di Tengah Ekaristi: Sebuah refleksi iman di antara altar, ketakutan, dan bumi yang bergetar

Ada saat ketika manusia kehabisan kata-kata. Ada saat ketika sesuatu yang selama ini kita anggap kokoh; lantai, dinding, altar, bahkan rasa aman tiba-tiba kehilangan kepastiannya. 

Karena itu, keluar dari kapela untuk menyelamatkan diri bukanlah tindakan yang bertentangan dengan iman. Menjaga kehidupan adalah bagian dari penghormatan kita kepada Allah, Sang Pemberi kehidupan.

Ekaristi tidak pernah dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari kenyataan hidup. Sebaliknya, Ekaristi mengutus kita kembali ke dunia.

Roti yang kita terima di altar harus menjadi kasih yang kita bagikan. Doa yang kita ucapkan harus menjadi tindakan. Dan iman yang kita rayakan harus menjadi keberanian untuk hadir di tengah mereka yang menderita. Salib Kristus di tengah bumi yang berguncang

Dalam kisah sengsara, Injil Matius mencatat bahwa ketika Yesus wafat di kayu salib, bumi berguncang dan batu-batu terbelah (Mat 27:51).

Bagi iman Kristiani, salib adalah tanda bahwa Allah tidak berdiri jauh dari penderitaan manusia. Dalam diri Kristus, Allah masuk ke dalam kerapuhan manusia. Ia mengalami ketakutan, penderitaan, ketidakadilan, kesepian, dan kematian. Karena itu, ketika bumi Flores berguncang, kita tidak mempunyai Allah yang asing terhadap penderitaan. Kita mempunyai Kristus yang tersalib.

Kristus yang tahu apa artinya kehilangan rasa aman. Kristus yang tahu apa artinya menangis. Kristus yang tahu apa artinya menghadapi sesuatu yang tidak dapat dikendalikan manusia. Namun salib bukanlah akhir. Ada kebangkitan. Karena itu, iman tidak menjanjikan bahwa kita akan hidup tanpa gempa, tanpa bencana, tanpa kehilangan atau tanpa air mata.

Iman menjanjikan bahwa penderitaan bukanlah kata terakhir. Setelah gempa, kita harus menjadi Ekaristi. Ketika kami kembali ke kapela pagi itu dan melanjutkan Ekaristi, saya menyadari bahwa doa-doa kami terasa lebih nyata. Ketika kami berdoa untuk keselamatan, kami tahu apa artinya takut. Ketika kami berdoa bagi mereka yang menderita, kami tahu bahwa penderitaan itu bukan sesuatu yang jauh. Dan ketika kami mengangkat roti dan anggur, saya kembali teringat bahwa Ekaristi adalah perayaan pemberian diri Kristus. Maka setelah gempa, pertanyaan bagi Gereja bukan hanya: “Apa yang harus kita doakan?” Tetapi juga: “Apa yang harus kita lakukan?”

Halaman: 1234

CATATAN REDAKSI:

Apabila terdapat pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan atas penayangan artikel dan/atau berita di atas, dapat mengajukan sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami. Koreksi tersebut dapat disampaikan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita Terkait

Berita Terbaru