PERSPEKTIFNUSANTARA.COM, Selasa, 14 Juli 2026, menjadi hari yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Kabupaten Labuhanbatu. Di KM 5, Desa Sei Tampang, Kecamatan Bilah Hilir, sebuah truk bermuatan kelapa sawit mengalami kecelakaan yang mengakibatkan seorang pelajar meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan sembilan pelajar lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan di Puskesmas Bilah Hilir.
Berdasarkan informasi awal yang beredar, truk diduga mengalami patah as dan pecah ban. Selain itu, kondisi jalan yang rusak, miring, atau tidak rata diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan. Namun, penyebab pasti harus dipastikan melalui penyelidikan yang objektif, menyeluruh, dan transparan.
Saya, Martogi Situmorang, putra asli Kabupaten Labuhanbatu, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Namun, tragedi ini tidak boleh berhenti sebagai berita sesaat. Tragedi ini harus menjadi momentum untuk mengevaluasi keseriusan pemerintah dalam memenuhi hak masyarakat atas infrastruktur yang aman.
Seorang ayah atau ibu tidak pernah membayangkan bahwa pelukan terakhir kepada anaknya pada pagi hari menjadi pelukan terakhir untuk selamanya. Mereka melepas anaknya untuk belajar, bukan untuk pulang sebagai jenazah. Tidak ada pembangunan yang pantas dibanggakan apabila keselamatan anak-anak masih dipertaruhkan di jalan yang bertahun-tahun dibiarkan rusak.
Saya juga tidak ingin menjadikan sopir sebagai kambing hitam sebelum seluruh fakta terungkap. Sejauh yang diketahui, sopir tidak melarikan diri dan mengakui kejadian tersebut. Ia bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Apabila penyelidikan nantinya membuktikan bahwa kondisi jalan menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan, tanggung jawab tidak boleh berhenti pada sopir semata. Pemerintah sebagai penyelenggara infrastruktur juga harus dievaluasi.
Labuhanbatu merupakan salah satu daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Sumatera Utara. Di sejumlah desa, hasil panen sawit bahkan dapat mencapai 500–600 ton setiap minggu, belum termasuk hasil pertanian lainnya, seperti padi. Aktivitas ekonomi sebesar ini memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara maupun daerah.
Namun, pertanyaan yang terus hidup di tengah masyarakat adalah: ke mana hasil penerimaan tersebut dikembalikan? Mengapa masyarakat masih harus mempertaruhkan nyawanya di jalan yang rusak selama puluhan tahun?